Piala AFF 2016

Pengalaman, Kecepatan, dan Determinasi dari 3 Pemain Indonesia yang Patut Diwaspadai Vietnam

Jumat, 2 Desember 2016 09:05 WIB
Editor: Arief Rahman Hakim
 Copyright:
Stefano Lilipaly

Gelandang SC Telstar berusia 26 tahun merupakan sosok yang sederhana dalam bermain sepakbola, menjalankan instruksi pelatih, dan jadi pemain serba bisa yang siap bermain di posisi manapun.

"Di Belanda, tahun lalu saya bermain di delapan posisi berbeda. Jadi buat saya tak jadi masalah bermain sebagai bek kanan atau pun gelandang. Saya bisa beradaptasi dengan cepat, saya bermain di mana saja di Belanda, bukan masalah," ungkap Lilipaly.

"Tetapi saya melihat diri saya sebagai pemain menyerang, walau saya juga tak terlalu buruk bermain bertahan ketika bermain sebagai bek kanan di kesebelasan Belanda yang saya bela. Tapi meski bermain sebagai bek kanan, saya juga akan banyak melakukan serangan," paparnya.

Terpaan bermain di Belanda mengembangkan permainannya yang lebih ke tipikal box to box player, alias gelandang enerjik yang rajin menjelajah ruang saat bertahan dan menyerang.

Di satu waktu, Lilipaly bisa ada membantu pertahanan tim, namun juga membantu serangan dan muncul dari lini kedua, seperti halnya kala mencetak gol krusial ke gawang Singapura.

Sayang, dari kacamata pengamat bola, sang pemain banyak meninggalkan lubang dalam formasi 4-4-2 dan dianggap tak bisa bekerja sama baik dengan Evan Dimas Darmono. Kendati demikian, Lilipaly membantah anggapan itu.

"Dalam permainan, jika Evan menyerang, maka saya akan tetap di tengah. Jika saya menyerang, maka ia harus bertahan. Tapi sebenarnya, jika saya bermain dengan Evan di gelandang dan kita harus terus ke depan, saya ingin ada satu gelandang bertahan di belakang kami, itu akan sangat ideal dan akan menjadi tim terbaik. Tapi saat ini, dengan bermain seperti ini, kita harus berusaha keras satu sama lain," terangnya.

Perubahan pun coba dilakukan Riedl, kala mengubah 4-4-2 menjadi 4-2-3-1 saat melawan Singapura. Sama halnya seperti Andik, Lilipaly pun bisa lebih fokus menyerang, tanpa berpikir meninggalkan celah, karena di belakangnya ada Evan Dimas dan Bayu Pradana.

Kebebasan bermain itu terbukti dengan statistik total empat tendangan tepat sasaran ke gawang Singapura, salah satunya berbuah gol. Bahkan, Lilipaly memenangi duel bola udara sebanyak 80 persen atas pemain Singapura yang unggul dari segi fisik.

Tak pelak Lilipaly bisa jadi elemen kejutan bagi Vietnam, jika barisan pemain ofensif Indonesia mengalami kebuntuan. Eks pemain Persija Jakarta jadi senjata rahasia Riedl dalam membobol gawang lawan.

1.2K