(VIDEO) Road to Final: Langkah Mulus Juara Bertahan Piala AFF
Thailand bertemu runner up Grup B, Myanmar, yang jadi tuan rumah Grup B dan lolos dengan poin enam di bawah Vietnam. Leg pertama berlangsung di Stadion Thuwunna, Yangon, pada 4 Desember 2016.
Myanmar memiliki ciri khas bermain ngotot dan determinasi tinggi, namun di atas kertas kualitas bermain mereka ada di bawah Thailand. Tak pelak tim tamu bermain cerdas dan mementahkan serangan-serangan yang dibangun Myanmar.
Keunggulan kualitas mereka terlihat kala kapten tim, Dangda, menjebol gawang Myanmar di menit 23 kala menerima umpan Songkrasin. Eks penyerang Manchester City dan UD Almeria kembali menjebol gawang Myanmar, dan kali ini dengan aksi individunya melewati lini belakang Myanmar.
Skor 2-0 di leg pertama yang berlangsung di markas Myanmar, unggul dua gol tandang, keunggulan yang nyaman, pekerjaan selesai bagi Thailand dan mereka sudah memimpikan laga final Piala AFF 2016.
Benar saja, kala leg kedua berlangsung di Stadion Rajamangala pada 8 Desember 2016, Thailand hanya bermain lebih cerdas, karena mereka tahu Myanmar akan bermain all out attack alias full menyerang, untuk mengejar ketertinggalan agregat gol.
Thailand pun hanya mengatur tempo bermain kala membangun serangan dan juga menyerang dari serangan balik, memanfaatkan rapuhnya lini belakang lawan. Mereka mencetak empat gol dari gol Masuk, Theerathon Bunmathan, Siroch Chattong, dan Songkrasin.
Total agregat gol menjadi 6-0 dan Myanmar sama sekali tidak berkutik menjebol gawang Thailand. Jika di leg pertama Thailand kalah dari segi penguasaan bola 46 berbanding 54 persen, namun lebih efektikf dengan 15 percobaan ke gawang Myanmar, di mana sembilan di antaranya tepat sasaran.
Maka di leg kedua Thailand unggul 57 berbanding 43 persen dengan Myanmar, dan juga melepaskan 10 peluang dengan lima di antaranya tepat sasaran.
Dua statistik berbeda itu membuktikan, bahwa Thailand sudah mengadopsi gaya bermain klub Eropa, yang fleksibel menyesuaikan permainan tim dengan lawan yang dihadapinya.
Thailand tahu kapan harus bermain ofensif atau bertahan dengan serangan balik yang efektif, terutamanya dalam transisi bertahan ke menyerang. Di turnamen ini juga, Kiatisuk menggunakan dua formasi berbeda, 4-2-3-1 dan 3-4-1-2.