INDOSPORT.COM - Kegeraman publik dengan mencuatnya isu match fixing sepertinya akan terus berlangsung. Sebuah pelanggaran serius dalam dunia sepak bola, yang tentu berdampak besar pada stigma negatif publik terhadap kualitas kompetisi tanah air.
Bagi Ruddy Widodo, praktik jual beli skor itu seharusnya tidak terselenggara di dunia sepak bola yang menjunjung tinggi asas sportivitas. Pasalnya, sepak bola bukan mainan yang bisa diskenariokan sedemikian rupa sesuai keinginan masing-masing.
"Sepak bola itu bukan play station. Kalau yang menang tim apa, itu namanya bukan match fixing. Karena kan terlalu mudah untuk menebak," papar Ruddy Widodo, General Manager Arema FC.
Lebih lanjut, ia masih tidak habis pikir atas terjadinya praktik kotor di sepak bola tanah air itu. Match fixing disebutnya sebagai hal yang paling mencederai dunia sepak bola, lantaran merasuk pada hal-hal yang detail sepanjang 90 menit pertandingan.
"Karena yang namanya match fixing, itu yang diatur ya sampai skor-skornya. Game ini hasil akhirnya berapa-berapa," ulasnya.
"Mbuh ya (tidak tahu ya), saya juga tidak habis pikir dengan itu. Piye yo lek nglakoni (Bagaimana caranya kalau melakukan) itu," terangnya.
Maka dari itu, ia masih tidak percaya hal itu bisa terjadi pada Liga 1, yang notabene tempat tim-tim terbaik bernaung. Tidak hanya Arema FC, kompetisi kasta tertinggi itu juga menjadi ajang adu kualitas tim-tim dengan pemain berkelas tim nasional yang tersebar di sejumlah klub.
"Pasti akan berlangsung pada kualitas kompetisinya kalau terjadi di Liga 1. Tapi untuk Liga 2, saya tidak tahu seperti apa," pungkasnya.
Terus Ikuti Berita Sepak Bola Liga Indonesia dan Berita Olahraga Lainnya Hanya di INDOSPORT