Liga Indonesia

Memahami Pro Kontra yang Muncul dalam Pencabutan Sanksi Persib Bandung

Jumat, 1 Maret 2019 20:57 WIB
Penulis: Petrus Tomy Wijanarko | Editor:
© Arif Rahman/INDOSPORT
Bobotoh berikan dukungan untuk Persib Bandung dan pelatih Mario Gomez. Copyright: © Arif Rahman/INDOSPORT
Bobotoh berikan dukungan untuk Persib Bandung dan pelatih Mario Gomez.
Terlalu Berat?

Sebuah keputusan tak jarang menimbulkan pro dan kontra tersendiri. Begitu pula yang terjadi pada keputusan pencabutan sanksi Persib.

Hukuman yang diterima Persib atas kejadian tewasnya suporter sepak bola memang terbilang cukup berat. Terutama bila dibandingkan dengan hukuman-hukuman untuk kasus serupa di Eropa sana.

Di Serie A Italia 2018/19, ada kasus tewasnya suporter dalam laga Inter Milan vs Napoli. Laga itu juga dihiasi oleh aksi rasisme yang dilakukan para suporter Inter Milan ke pemain Napoli, Kalidou Koulibaly.

Namun, otoritas sepak bola Italia malah lebih fokus menjatuhkan sanksi untuk kasus rasisme. Seperti dikutip dari BBC, Inter Milan dihukum dua pertandingan tanpa dihadiri penonton akibat suporternya melakukan rasisme.

Ada pula kasus serupa yang agak berbeda tejadi di gelaran Liga Champions musim lalu dalam laga antara Liverpool vs AS Roma. Di luar stadion Anfield, seorang pendukung Liverpool, Sean Cox hampir tewas setelah diserang suporter AS Roma.

Kasus itu lantas mengundang sanksi dari UEFA untuk AS Roma. Dikutip dari BBC, Serigala Roma didenda sekitar 50 ribu euro, atau 810 juta rupiah. AS Roma juga disanksi tak mendapat jatah tiket tandang untuk dua laga Liga Champions musim 2018/19.

Sementara yang dialami Persib terbilang cukup berat. Sejak tahun 2018 lalu hingga pertengahan musim 2019, Persib dilarang bermain tanpa ditemani Bobotoh sama sekali.

Pencabutan sanksi pun lantas bisa dibilang menjadi sebuah keputusan tepat bila berkaca pada hal tadi. Ya, beban sanksi terlalu berat itu kini akhirnya sudah lepas dari pundak Maung Bandung.