INDOSPORT.COM - Jika benar Luis Milla kembali menangani Timnas Indonesia, setumpuk permasalahan di era Simon McMenemy pun menanti untuk diselesaikan.
Kabar kembalinya Luis Milla melatih Timnas Indonesia semakin liar bergulir. Kabar ini dihembuskan oleh eks Sekjen PSSI, Ade Wellington. Ia menyebut kemungkinan itu ada dalam perbincangannya dengan Sekretaris Menpora, Gatot S. Dewa Broto.
"Jadi mohon bantuan Pak Gatot untuk menyampaikan kepada para kandidat Ketum PSSI, siapa pun yang terpilih untuk menunjuk Luis Milla menjadi Pelatih Timnas-nya,” kata Ade Wellington ke Sekretaris Menpora.
Seakan gayung bersambut, kabar lain pun menyebutkan pelatih asal Spanyol itu mempertimbangkan untuk kembali melatih Timnas Garuda.
Luis Milla disebut siap bernegosiasi lagi soal gaji apabila diminta kembali melatih timnas Indonesia. Hal itu diketahui dari percakapan aplikasi pesan singkat Whatsapp Sesmenpora, Gatot S. Dewa Broto, dengan Duta Besar RI untuk Spanyol, Hermono.
Luis Milla sendiri belum lagi menangani tim sepak bola setelah pergi dari Indonesia. Jika kabar kembalinya Luis Milla ke Indonesia di masa mendatang benar adanya, maka Milla pun sudah dinanti oleh setumpuk pekerjaan rumah.
Rekam Jejak Luis Milla
Luis Milla menangani Indonesia dari kurun waktu Januari 2017 hingga selesai Asian games 2018 pada Agustus 2018.
Ketika didatangkan, PSSI menargetkan Luis Milla untuk membawa Timnas Indonesia U-23 lolos ke Piala Asia U-23 2018 dan menjuarai SEA Games 2017. Selain itu, Milla juga dipasang target untuk membawa Garuda Muda tembus semifinal Asian Games 2018.
Namun pada kenyataanya, semua target yang dibebankan PSSI meleset alias gagal dipenuhi Milla. Indonesia gagal di fase grup kualifikasi Piala Asia U-23, cuma dapat perunggu SEA Games 2017, dan tersingkir di babak 16 besar Asian Games 2018.
Selama hampir dua tahun memegang timnas, Milla melakoni 34 pertandingan dengan rincian meraih 14 kemenangan, sembilan seri, dan 11 kekalahan.
Jika menilik statistik semata, maka 'gagal' adalah kata yang tepat untuk menilai pekerjaan Luis Milla.
Namun, jika melihat kerja nyatanya di lapangan, maka Milla bisa dikatakan adalah salah satu pelatih terbaik yang pernah dimiliki Timnas Indonesia.
Mengapa? Milla memberikan banyak perubahan pada Timnas Indonesia. Tentu kita masih ingat bagaimana Hansanmu Yama dkk mampu dua kali mengejar ketertinggalan dari Uni Emirat Arab di Asian Games dengan permainan yang impresif.
Timnas bermain dengan kesolidan serta kepercayaan diri melawan tim kuat dari Timur Tengah.
Di bawah Milla Indonesia menjadi tim yang rajin menciptakan peluang. Tak lagi sekedar mengandalkan skill individu dan umpan-umpan lambung.
Timnas berani bermain dari kaki ke kaki. Dikutip dari statistik Labbola, Indonesia mengakhiri empat laga di Grup A Asian Games 2018 dengan melepaskan 63 tembakan di mana sebanyak 28 mengarah ke gawang.
Gacornya lini serang Indonesia tak terlepas dari permainan ball possession yang kuat layaknya tim Spanyol. Indonesia di bawah Milla seakan siap menantang tim manapun.
Selain itu, Milla juga memiliki variasi permainan yang bagus. Di bawah Milla, indonesia akhirnya menemukan pakem terbaiknya, yakni 4-2-3-1.
Dengan formasi ini, Indonesia mampu menyerang dari penetrasi sisi sayap, umpan silang, sampai permainan operan bola pendek serta satu-dua sentuhan di lini tengah.
Indonesia di tangan Luis Milla sukses naik kelas. Selain permainan yang bagus, Indonesia juga punya mental juara, karakter permainan, dan semangat pantang menyerah.
Pekerjaan Rumah Luis Milla
Berbeda dengan Luis Milla, Timnas Indonesia di bawah Simon McMenemy tampil sangat jeblok, baik itu dari hasil akhir maupun gaya permainan.
Simon McMenemy didatangkan Indonesia dengan target untuk membawa Evan Dimas dkk lolos ke babak kedua kualifikasi Piala Dunia 2022 dan menjuarai Piala AFF 2020.
Namun, tanda-tanda kegagalan sudah terlihat gamblang saat Indonesia tak berhasil merebut satu poin pun dari empat laga awal babak ketiga kualifikasi Piala Dunia 2022.
Tak cuma hasil akhir yang jeblok, Indonesia juga jadi bulan-bulanan tim-tim lawan. Evan Dimas dkk dipermalukan Malaysia 2-3, serta dibantai oleh Thailand (3-0), Vietnam (1-3), dan UEA (5-0).
Secara permainan pun Timnas Indonesia tidak bisa disebut solid. Para pemain Garuda banyak sekali kehilangan bola, tampil demam panggung, sulit dalam menciptakan peluang ketika sudah bertemu tim seperti Thailand atau UEA.
Padahal, banyak pemain-pemain racikan Simon merupakan mantan anak asuh Luis Milla. Para pemain seperti kehilangan gaya bermain solid seperti di masa lalu yang mampu merepotkan tim-tim kuat.
Belum lagi penyelesaian akhir yang sangat buruk. Melawan Malaysia misalnya. Indonesia punya banyak peluang untuk 'membunuh' laga.
Tanda-tanda buruknya finishing touch timnas di bawah Simon sudah terlihat pada laga uji coba perdana melawan Myanmar (2-0). Saat itu begitu banyak peluang yang terbuang sia-sia.
Timnas di bawah Simon juga memiliki penguasaan bola yang buruk. Timnas selalu jadi yang inferior di antara empat lawannya di Grup G Kualifikasi Piala Dunia 2022.
Sepanjang kualifikasi, Simon juga hampir selalu berganti-ganti formasi seakan 'coba-coba'. Indonesia kehilangan karakteristiknya dengan bola-bola pendek dan penguasaan bola yang kuat.
Deretan persoalan inilah yang menanti untuk diselesaikan oleh Luis Milla. Milla harus mampu mengangkat kembali level Indonesia.
Timnas Indonesia harusnya bisa mewujudkannya hal ini karena di bawah Luis Milla mereka sudah pernah mencapai level yang tinggi.