In-depth

Sisi Kelam Persipura di Ligina II, Amarah Liverpool di Stadion Mandala

Jumat, 1 Mei 2020 14:08 WIB
Penulis: Sudjarwo | Editor: Theresia Ruth Simanjuntak
© Sudjarwo/INDOSPORT
Di balik kisah indah Persipura Jayapura yang berhasil melangkah ke babak semifinal Liga Indonesia II 1995/1996 sempat menghadirkan sebuah catatan sejarah kelam di babak penyisihan klasemen Wilayah Timur di Stadion Mandala. Copyright: © Sudjarwo/INDOSPORT
Di balik kisah indah Persipura Jayapura yang berhasil melangkah ke babak semifinal Liga Indonesia II 1995/1996 sempat menghadirkan sebuah catatan sejarah kelam di babak penyisihan klasemen Wilayah Timur di Stadion Mandala.

INDOSPORT.COM - Di balik kisah indah Persipura Jayapura yang berhasil melangkah ke babak semifinal Liga Indonesia II 1995/1996 sempat menghadirkan sebuah catatan sejarah kelam di babak penyisihan klasemen Wilayah Timur.

Sejak kembali menapakkan kaki di kompetisi kasta tertinggi sepak bola Indonesia, aksi-aksi Persipura kembali menjadi sebuah komoditas hiburan nomor satu yang ditunggu-tunggu oleh publik Jayapura.

Tak ayal, Stadion Mandala selalu ramai akan penonton, meskipun kondisi fisik stadion tersebut kala itu masih setingkat amatiran.

Ribuan penonton selalu membludak ketika Ritham Madubun, Chris Yarangga, Ronny Wabia dan kolega bertanding di Stadion Mandala pada medio 90-an.

Stadion Mandala yang mendadak sepi dan nyaris dialih fungsikan menjadi kebun singkong ketika terdegradasi di era perserikatan (1988-1993), seketika berubah bak neraka bagi tim tamu yang bertandang.

Stadion Mandala tak ubahnya koloseum yang siap mengganggu, merusak dan menjatuhkan mental para gladiator yang bertarung.

Setidaknya, sejumlah insiden kelam pernah terjadi di markas Persipura yang sudah ada sejak zaman Belanda itu.

Salah satunya, laga kandang Persipura menjamu Pupuk Kaltim Bontang di kompetisi Ligina II musim 1995/1996. Insiden tersebut tak lagi terdengar dalam catatan sejarah klub Persipura sampai saat ini.

Hujan Botol Hingga Copotnya Pagar Stadion

Di Stadion Mandala ada sebuah tribun sakral yang dibangun semi permanen dan terbuat dari papan kayu, dikenal dengan sebutan tribun Liverpool. Di situlah tempat para penonton fanatik Persipura bertengger, sudah sejak masa lampau.

Tribun Liverpool menjadi sisi yang paling dihindari oleh setiap tim lawan yang bertanding di Stadion Mandala. Bukan hanya karena takut konsentrasi dan mental bertanding menjadi terganggu, tapi hujan botol kerap beterbangan dari tribun tersebut.

Insiden yang paling ditakutkan pun terjadi dalam duel panas Persipura kontra salah satu tim kuat di Wilayah Timur kala itu, Pupuk Kaltim Bontang.

Persipura yang tertinggal lebih dulu dengan skor 1-2 hingga babak kedua, membuat suasana di tribun Liverpool kala itu kian memanas. Penonton mulai mengusik jalannya pertandingan dengan luapan emosi.

Kondisi semakin menjadi ketika seorang pemain Pupuk Kaltim memanfaatkan keadaan tersebut dengan melakukan provokasi terhadap kubu Persipura. Pemain tersebut ialah Simon Atangana, gelandang asing asal Kamerun yang selama pertandingan berlangsung kerap membuat geram penonton dengan aksi bengalnya.

Kerusuhan pecah saat emosi penonton di tribun Liverpool tak lagi tertahankan. Mereka geram karena menduga pemain Kamerun tersebut melakukan pemukulan terhadap penjaga gawang Persipura, Helconi Hermain.

"Itu pengalaman unik sekaligus menegangkan. Kejadian sebenarnya salah satu pemain asing PKT Bontang asal Kamerun berselisih paham dengan pemain kita. Posisinya waktu itu kita sedang tertinggal dan suporter sudah panas sama pemain ini. Kebetulan pemain PKT ini malah membalas dengan acungan tangan yang tidak pantas," kenang Helconi kepada INDOSPORT, Jumat (1/5/20).

"Di situ saya datang untuk menenangkan, baik pemain PKT maupun penonton. Namun, dari arah penonton bersamaan ada lemparan botol dan batu seukuran kepalan tangan yang mendarat di kepala saya. Saya lalu terjatuh, seolah-olah masyarakat melihat tangan pemain asing itu memukul muka saya," tambahnya.

Insiden tersebut kemudian memicu penonton untuk turun ke lapangan dan mengincar para pemain Pupuk Kaltim, sekaligus merusak pagar besi yang mengelilingi lapangan Stadion Mandala.

"Dari situ terjadilah kerusuhan. Pagar besi stadion tumbang sana sini. Pokoknya sempat mencekam terkhusus bagi pemain PKT Bontang," ujar Helconi.

Situasi kala itu di Stadion Mandala nyaris tak bisa diredam. Beruntung pihak keamanan cepat tanggap dan pertandingan bisa kembali dilanjutkan, walau tim PKT Bontang dan Helconi sempat dievakuasi lewat laut.

"Lama juga kondisi itu. Makanya saya di evakuasi lewat laut. Negosiasi antara panpel, aparat keamanan dan kedua tim akhirnya pertandingan dilanjutkan," terangnya.

Peristiwa ini juga masih diingat dengan jelas oleh rekan Helconi di bawah mistar gawang Persipura, Fison Merauje. Pria yang kini bertugas sebagai Panpel Persipura itu juga menceritakan bagaimana situasi panas di Stadion Mandala kala itu.

"Waktu itu ada lemparan ke dalam lapangan dari penonton yang di tujukan ke Simon Atangana ini, tapi kenanya ke Helconi dan dia terjatuh. Penonton pikir Simon melakukan pemukulan. Makanya penonton yang di tribun Liverpool turun, pertandingan pun sempat berhenti," ujar Fison.

Setelah situasi mulai reda, Fison masuk menggantikan Helconi yang alami cedera di bagian kepalanya. Persipura kemudian berhasil menyamakan kedudukan dengan skor 2-2 hingga peluit akhir dibunyikan.

"Pertandingan akhirnya dilanjutkan dan saya masuk menggantikan Helconi, waktu itu kita bisa menyamakan hasil akhir menjadi 2-2," pungkasnya.

Musim Ligina II 1995/1996 menjadi salah satu musim terbaik dalam sejarah klub Persipura. Tim Mutiara Hitam berhasil lolos ke babak semifinal untuk pertama kalinya di era kompetisi profesional. Bahkan hebatnya, mereka melakukan itu tanpa diperkuat oleh pemain asing.

1