INDOSPORT.COM - Nama Florentino Pérez kembali mendominasi pemberitaan media Spanyol. Tekanan untuk mundur menguat setelah musim sulit yang dijalani Real Madrid menjaga stabilitas klub.
Bagi sebagian pihak, sikap itu dianggap keras kepala. Tetapi bagi pendukungnya, keputusan tersebut lahir dari rekam jejak yang sulit ditandingi dalam sejarah sepak bola modern.
Perez pertama kali memimpin Madrid pada 16 Juli 2000. Ia mengalahkan Lorenzo Sanz melalui kampanye ambisius yang menjanjikan revolusi besar.
Janji itu langsung diwujudkan lewat transfer fenomenal Luís Figo dari rival abadi FC Barcelona. Langkah tersebut mengguncang sepak bola Eropa dan menandai lahirnya era Galacticos.
Setelah itu, nama-nama besar berdatangan. Zinedine Zidane, Ronaldo Nazário, David Beckham, hingga Michael Owen memperkuat Los Blancos.
Strategi itu sempat menuai kritik. Banyak yang menilai Madrid terlalu fokus pada pemasaran ketimbang keseimbangan tim.
Meski begitu, hasil tetap datang. Pada periode pertamanya, Perez mempersembahkan dua gelar La Liga dan satu trofi Liga Champions.
Madrid menjuarai kompetisi elite Eropa musim 2001-02. Gol voli spektakuler Zidane di final menjadi simbol kejayaan era awal Perez.
Selain trofi, Perez membangun fondasi ekonomi klub. Ia mengubah Madrid menjadi mesin bisnis global dengan pemasukan komersial yang melesat tajam.
Transformasi stadion juga dimulai. Renovasi besar Santiago Bernabéu Stadium dirancang untuk membawa klub ke level industri hiburan kelas dunia.
Namun periode pertama berakhir dramatis. Pada Februari 2006, Perez memilih mundur di tengah performa buruk dan kritik internal.
Banyak pihak menduga kisahnya di Bernabeu selesai. Real Madrid memasuki masa transisi yang tidak stabil setelah kepergiannya.
Tiga tahun kemudian, ia kembali. Pada 1 Juni 2009, Perez terpilih tanpa lawan dan memulai babak kedua yang jauh lebih sukses.
Comeback itu langsung ditandai transfer sensasional. Cristiano Ronaldo, Kaká, Karim Benzema, dan Xabi Alonso datang bersamaan.
Investasi besar itu mengubah wajah klub. Madrid kembali menjadi magnet utama talenta terbaik dunia.
Butuh waktu untuk menuai hasil. Dominasi Barcelona era Pep Guardiola sempat membuat Madrid tertatih.
Perez tetap sabar. Ia percaya proyek besar tidak dibangun dalam semalam.
Kesabaran itu terbayar lewat era Carlo Ancelotti dan Zinedine Zidane. Madrid meraih gelar demi gelar dengan konsistensi luar biasa.
Hingga kini, Perez telah membawa Madrid meraih 37 trofi sepak bola resmi. Jumlah itu menjadikannya presiden tersukses dalam sejarah klub.
Tujuh gelar La Liga menjadi bukti dominasi domestik. Madrid juara pada 2001, 2003, 2012, 2017, 2020, 2022, dan 2024.
Tiga trofi Copa del Rey melengkapi koleksi nasional. Gelar itu diraih pada 2011, 2014, dan 2023.
Tujuh Piala Super Spanyol ikut menghiasi kabinet klub. Madrid terus menjaga supremasi atas rival-rival utama.
Prestasi paling monumental hadir di Eropa. Perez mengantar klub meraih tujuh trofi Liga Champions.
Trofi itu datang pada 2002, 2014, 2016, 2017, 2018, 2022, dan 2024. Catatan tersebut melampaui banyak presiden elite Eropa.
Era tiga gelar beruntun dari 2016 hingga 2018 menjadi mahakarya. Tidak ada klub lain yang mampu menandingi dominasi itu di era modern.
Enam Piala Super Eropa juga mempertegas supremasi internasional. Madrid berkali-kali membuktikan diri sebagai raja benua biru.
Di panggung global, Perez mempersembahkan lima Piala Dunia Antarklub. Dominasi itu menunjukkan konsistensi di level tertinggi.
Dua gelar Piala Interkontinental melengkapi koleksi prestisius. Madrid menegaskan identitas sebagai klub terbesar dunia.
Bukan hanya soal trofi. Perez juga mengubah wajah finansial klub secara radikal.
Forbes berkali-kali menempatkan Madrid sebagai klub olahraga paling bernilai di dunia. Transformasi ekonomi itu dianggap salah satu warisan terbesarnya.
Renovasi Bernabeu menjadi simbol ambisi tersebut. Stadion kini berubah menjadi arena futuristik multifungsi berkelas global.
Bagi Perez, klub modern harus lebih dari sekadar tim sepak bola. Madrid harus menjadi perusahaan hiburan raksasa.
Model bisnis itu membuat Madrid tetap kompetitif. Bahkan ketika pandemi menghantam industri olahraga, klub mampu bertahan stabil.
Di sisi lain, gaya kepemimpinannya sering memicu kontroversi. Perez dikenal sangat dominan dalam setiap keputusan besar.
Kritik juga datang dari proyek Liga Super Eropa. Banyak pihak menilai gagasan itu merusak struktur tradisional sepak bola.
Perez tak pernah mundur dari keyakinannya. Ia percaya masa depan sepak bola butuh reformasi besar. Karakter itulah yang membuatnya tetap bertahan. Ia jarang tunduk pada tekanan publik.
Saat musim buruk datang, seruan mundur kembali muncul. Tetapi catatan 37 trofi menjadi tameng terkuatnya.
Bagi sebagian besar socios, hasil adalah ukuran utama. Dan dalam ukuran itu, Perez nyaris tak tersentuh.
Ia telah melewati berbagai badai. Dari krisis internal, pergantian pelatih, hingga perang opini media. Namun satu hal tetap sama. Perez selalu menemukan cara menjaga Madrid di puncak.
Kini pertanyaan terbesar bukan apakah ia pantas bertahan. Pertanyaannya adalah siapa yang mampu menandingi warisan sebesar itu.
Real Madrid adalah institusi raksasa dengan standar mustahil. Tidak banyak figur yang sanggup memikul beban sebesar itu.
Perez telah membuktikan dirinya selama lebih dari dua dekade. Ia bukan sekadar presiden, melainkan arsitek era emas modern Madrid.
Karena itu, ketika desakan mundur datang, jawabannya selalu tegas. Selama masih dipercaya socios, Florentino Perez tidak akan pergi.
Dan selama ia bertahan, sejarah Madrid akan terus ditulis atas namanya. Sebab 37 trofi bukan sekadar angka, melainkan bukti nyata sebuah dinasti.