Bursa Transfer

Alasan James Rodriguez Pilih Bayern Munchen: Ancelotti Bilang Manchester United Telah ‘Mati’

Sabtu, 23 Mei 2026 09:06 WIB
Editor: Redaksi
© Simon Stacpoole/Offside/Getty Images
James Rodriguez dan Carlo Ancelotti usai Everton menghancurkan West Bromwich Albion Copyright: © Simon Stacpoole/Offside/Getty Images
James Rodriguez dan Carlo Ancelotti usai Everton menghancurkan West Bromwich Albion

INDOSPORT.COM - Mantan gelandang Real Madrid, James Rodriguez, mengungkap kisah menarik di balik kepindahannya ke Bayern Munchen dalam film dokumenter terbarunya di Netflix berjudul 'James.'. Pengakuan itu membuka cerita yang selama ini nyaris tak pernah diketahui publik sepak bola dunia.

Dalam salah satu adegan dokumenter tersebut, pemain asal Kolombia itu mengenang momen emosional saat harus meninggalkan Real Madrid pada bursa transfer musim panas 2017. Saat itu, James mengaku sempat berada di persimpangan antara bergabung dengan Manchester United atau menerima pinangan Bayern Munchen.

James menjelaskan bahwa agennya, Jorge Mendes, awalnya memberi tahu adanya peluang besar untuk merapat ke Old Trafford. Klub raksasa Premier League itu disebut sangat serius memboyongnya setelah masa depannya di Santiago Bernabeu mulai tidak menentu.

Namun situasi berubah ketika Mendes menawarkan opsi lain yang datang secara tiba-tiba. Bayern Munchen, yang saat itu sedang ditangani oleh Carlo Ancelotti, ternyata juga tertarik memboyong sang playmaker.

“Saya belum cerita tentang ini. Setelah Real Madrid, saya sebenarnya akan pergi ke Manchester United,” ujar James dalam dokumenter tersebut. Ia mengatakan situasi berubah setelah Mendes menanyakan apakah dirinya tertarik pindah ke Bayern.

James mengaku awalnya ragu menerima tawaran dari raksasa Bundesliga tersebut. Alasannya sederhana, lini serang Bayern kala itu dihuni nama-nama besar seperti Franck Ribery dan Arjen Robben.

Ia sempat bertanya kepada Mendes soal peluang bermain reguler di Allianz Arena. Menurut James, persaingan di sektor sayap Bayern tampak sangat berat untuk ditembus.

Mendes lalu memberi penjelasan yang mengubah segalanya. Sang agen menegaskan bahwa Carlo Ancelotti secara khusus meminta Bayern merekrut James.

Bagi James, nama Ancelotti punya arti sangat besar dalam perjalanan kariernya. Hubungan keduanya sudah terjalin erat sejak sama-sama berada di Real Madrid.

“Carlo seperti seorang ayah bagi saya,” kata James. Ia menegaskan bahwa ketika seseorang seperti Ancelotti memberi kepercayaan, ia selalu ingin membalasnya dengan kemampuan terbaik.

Tak lama setelah itu, Ancelotti langsung menghubunginya melalui sambungan telepon pribadi. Percakapan itulah yang akhirnya menentukan arah karier James berikutnya.

James mengaku sempat memberi tahu Ancelotti bahwa dirinya hampir menerima tawaran Manchester United. Ia merasa kepindahan ke Inggris adalah opsi logis mengingat reputasi besar klub tersebut.

Namun respons Ancelotti justru mengejutkannya. Pelatih asal Italia itu secara tegas meminta James membatalkan niat menuju Old Trafford.

“Manchester? United telah mati. Kamu harus datang ke sini bersama saya,” ujar Ancelotti seperti ditirukan James dalam dokumenter itu. Kalimat tersebut menjadi penegasan kuat bahwa sang pelatih sangat menginginkannya di Bayern.

 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 

A post shared by Kari Sports (@thekarisports)

Ucapan Ancelotti itu langsung membekas dalam benak James. Tanpa pikir panjang, ia akhirnya memilih bergabung ke Bayern Munchen dengan status pinjaman selama dua musim.

Keputusan itu terbukti menjadi salah satu langkah penting dalam karier profesionalnya. Bersama Bayern, James kembali menemukan sentuhan terbaik yang sempat memudar di Madrid.

Selama membela klub Jerman tersebut, James tampil konsisten sebagai kreator serangan. Ia menjadi salah satu pemain penting dalam skema permainan Ancelotti dan penerusnya.

Meski begitu, kepindahannya dari Real Madrid tetap meninggalkan luka mendalam. James mengaku sangat terpukul ketika harus meninggalkan klub impiannya.

“Itu adalah mimpi saya bermain untuk Real Madrid,” ucapnya. Ia menyebut kesempatan bergabung ke Los Blancos sebagai kereta yang hanya datang sekali seumur hidup.

James mengenang momen ketika Jorge Mendes pertama kali memberitahunya bahwa Real Madrid tertarik merekrutnya. Saat itu, ia langsung yakin tak ada tawaran lain yang bisa menandingi kebesaran klub ibu kota Spanyol tersebut.

Meski sempat menerima tawaran dari klub-klub besar lain, pilihannya tak pernah berubah. Baginya, mengenakan seragam putih Real Madrid adalah puncak mimpi masa kecil.

Namun perjalanan indah itu tak selalu berjalan mulus. James mengungkap hubungannya dengan Rafa Benitez tidak pernah harmonis sejak awal.

Menurutnya, ia dan Benitez memiliki cara pandang berbeda tentang sepak bola. Ketegangan di antara keduanya bahkan sempat terlihat jelas di lapangan.

Hubungannya dengan Zinedine Zidane juga tidak sepenuhnya mudah. Meski menghormati sang legenda Prancis, James frustrasi karena jarang dimainkan dalam laga-laga besar.

Ia merasa selalu tampil baik saat diberi kesempatan. Namun Zidane disebut selalu memiliki kelompok inti pemain yang sulit digeser.

Meski kecewa, James mengaku tak pernah punya masalah pribadi dengan Zidane. Ia tetap menghormati keputusan pelatih yang sukses mempersembahkan banyak gelar untuk Real Madrid.

Saat keputusan hengkang akhirnya tiba, James tak mampu menahan kesedihan. Ia bahkan menangis sendirian di rumah agar putrinya tidak melihat kondisinya.

Namun sang anak justru menemukan dirinya sedang menangis. Momen itu menjadi salah satu bagian paling emosional dalam dokumenter James.

James mengaku hatinya benar-benar hancur saat harus memberi tahu putrinya bahwa mereka harus pindah klub. Perpisahan dengan Real Madrid menjadi luka yang masih ia kenang hingga sekarang.

Kini, lewat dokumenter tersebut, publik akhirnya mengetahui alasan sebenarnya di balik pilihannya menuju Bayern Munchen. Semua bermula dari satu telepon Carlo Ancelotti dan kalimat tajam tentang Manchester United yang disebut telah “mati”.