Manusia Berlari Kurang dari 120 Menit Sejauh 42km? Ilmuwan Yahudi Ini Coba Jawabnya

Kamis, 12 Mei 2016 21:13 WIB
Editor:
 Copyright:

Salah satu tempat di belahan bumi ini yakni daerah Laut Mati yang berada di antara Yordania dan Israel merupakan tempat yang memiliki tekanan udara sangat tinggi. Hanya ada 5 persen oksigen di daerah ini, sangat tipis. 

Tempat ini jadi tempat yang representatif untuk seorang ilmuwan bernama Yannis Pitsiladis. Yannis melakukan untuk menjawab satu pertanyaan, bagaimana mungkin tubuh manusia bisa memiliki kekuataan maksimal untuk berlari dengan waktu yang cepat. 

"Yang mengejutkan bagi saya ialah memahami batas-batas kerja tubuh manusia saat berlari dengan asupan oksigen terbatas," kata Yannis seperti dilansir dari The New York Times.

Pertanyaan Yannis ini ditujukan kepada pelari maraton asal Kenya, Dennis Kipruto Kimetto. Pelari 32 tahun ini pada 2014 lalu sukses berlari sejauh 42,195 km dengan catatan waktu 02:02:57. Ini rekor dunia. 

Secara awam, banyak yang meragukan bagaimana bisa seorang manusia bisa berlari selama 4 menit 27 detik per mil. Dengan catatan waktu seperti itu, Dennis membutuhkan 85-90 persen kapasitas aerobik (suatu kerja yang di laksanakan secara terus menerus selama mungkin, suatu kerja otot yang agak bersifat umum, dalam kondisi aerobik) maksimal seorang pelari. 

Angka itu dua kali lipat di atas kapasitas seorang pria saat melakukan aerobik. Detak jantung Dennis pun saat itu 160-170 denyut per menit, sedangkan untuk orang normal hanya 60-100 per menit. 

"Apakah mungkin ada orang lain yang bisa melampaui rekor itu, berlari marathon kurang dari 2 jam?" kata Yannis. 

Bukan hal mudah untuk Yannis untuk menjawab pertanyaan singkat tersebut. Rintangan bukan hanya persoalan dana untuk melakukan penelitian namun juga soal kesepakatan umum yang sudah lumrah di pegang para ilmuwan.