Althea Gibson, Mutiara Hitam Wimbledon Pertama Dalam Balutan Rasisme Dunia Part I
Di sebuah pinggiran kota Silver, kawasan Clarendon County bagian Carolina Selaran, sepasang suami-istri yang bekerja sebagai petani di Cotton Farm, Daniel dan Annie Bell Gibson tengah menanti kelahiran anak pertamanya.
Seorang anak wanita yang tentunya keduanya tidak tahu akan memiliki nama besar di dunia ini, lahir pada tanggal 25 Agustus 1927 yang sepakat diberikan nama Althea Gibson.
Pada masa itu, sedang terjadi masalah krisis moneter atau keuangan secara global yang dikenal juga dengan nama The Great Depression, sehingga membuat keluarga sederhana ini harus pindah saat Althea masih berusia 3 tahun ke Harlem, tempat di mana ketiga adik perempuan dan satu adik laki-laki Althea lahir.
Pindah tempat tinggal di daerah apartemen terpencil, sepertinya menjadi berkah tersendiri bagi Althea Gibson. Hal itu dikarenakan tempat tinggalnya ini memiliki arena berolahraga, sehingga Althea memanfaatkannya dengan baik.
Pada masa itu juga sedang semarak olahraga tenis dayung (sejenis olahraga tenis, tetapi raketnya terbuat dari kayu berbentuk dayung) dan di sinilah Althea sering bermain bermain bersama anak-anak sebayanya.
Bahkan, Gibson juga sering dikabarkan kabur dari sekolahnya alias membolos dan memilih untuk berolahraga. Selain bermain tenis, Gibson remaja juga senang sekali berolahraga golf, namun olahraga tenis selalu menjadi pilihan utamanya.
Tak disangka juga ternyata Althea sangat mahir memainkan olahraga tersebut, ia pun menigkuti kejuaraan tenis dayung perempuan di New York City pada tahun 1939 dan gelar juara berhasil diraihnya saat ia masih berusia 12 tahun.
Dari gelar inilah membuat Althea Gibson membuka kran kariernya di dunia tenis untuk masa depannya.