4 Hal Keraguan Terkait Pembenahan Sepakbola Indonesia

Minggu, 20 Desember 2015 10:22 WIB
Editor: Randy Prasatya
 Copyright:

Sabtu pagi sebelum fajar terbit menjadi cerita baru, namun tetap dengan tajuk yang sama, yaitu suporter sepakbola Indonesia tewas. Kejadian yang merenggut dua pendukung Arema Cronus itu terjadi di SPBU Jatisumo Ngampal, Sragen dan bengkel batas kota Nglorok, Sragen.

Kisa pilu itu bermula ketika rombongan Aremania yang menumpang bus pariwisata singgah di SPBU. Rombongan yang terdiri dari 32 suporter, satu orang sopir dan seorang kernet bus, tengah beristirahat dalam perjalanan menuju Stadion Maguwoharjo, Sleman.

Namun, seusai beristirahat rombongan tersebut mendapat serangan dari salah satu kelompok yang diduga pendukung Surabaya United. Di area SPBU itu pun kedua kubu akhirnya terlibat saling baku hantam hingga menewaskan satu pendukung Arema, yaitu Eko Prasetyo (28) warga Sebaluh, Pujon, Malang tewas.

Setengah jam setelah bentrokan pertama, pendukung Surabaya United kembali berulah dengan menyerang satu rombongan di Nglorok. Mereka tanpa rasa iba menyerang tujuh orang yang berada di dalam mobil dengan batu.

Keenam penumpang berhasil melarikan diri, namun sang pengemudi bernama Slamet berhasil ditangkap dan dihajar oleh kelompok pendukung Surabaya United dengan batang kayu. Dia pun harus meregang nyawa saat dalam perjalanan menuju rumah sakit.

Kejadian itu tentu saja menjadi warning bagi seluruh elemen yang tengah berupaya membenahi sepakbola. Menganggap remeh kejadian ini pun akan membawa para “penyelamat sepakbola” itu seperti penggurus PSSI yang sudah-sudah.

Berkaca dari kejadian itu, INDOSPORT akan mencoba memuat empat alasan jika sepakbola Indonesia tidak akan berkembang.

250