Meneropong Kisah Hidup 'Maradona dari Carpathians' (PART I)
Hagi pun tumbuh besar, beragam macam pengalaman yang didapatnya setelah menjadi seorang pesepakbola hebat tetap tidak mengubah karakter, watak dan kepribadiannya yang liar dan keras.
Sebuah kisah menarik terjadi dalam sebuah lawatannya ke Belanda bersama timnas Rumania pada tahun 2000. Saat tiba di bandara, Hagi merasa mendapat perlakukan kurang mengenakkan dari petugas bandara yang dianggap tidak menghargai tim Rumania.
Saat itu, Hagi tanpa lagi melihat kondisi sekitar tak segan menlontarkan cacian dan makian ke petugas bandara. Hagi bahkan nyaris melayangkan bogem mentahnya ke arah petugas yang dianggapnya telah berlaku arogan.
Sikap liar Hagi tidak hanya terjadi di luar lapangan, sikap tempramennya terbawa sampai ke lapangan hijau. Laga Rumania vs Italia pada ajang Piala Eropa tahun 2000 menjadi salah satu contoh ledakan emosionalnya.
Saat itu, Hagi memaki-maki dan mengumpat Vitor Manuel Melo Pereira wasit yang memimpin jalannya pertandingan, karena memberinya kartu merah akibat menganggapnya telah melakukan takcling keras terhadap Antonio Conte.
Namun Hagi tidak sependapat dengan putusan wasit karena menurutnya Conte telah melakukan diving dan menyikapinya dengan sangat tempramen.
Meskipun kerap tampil meledak-ledak dan emosional, tidak satupun orang Rumania yang memprotes apalagi menghujat tindakan dan perilakunya. Mereka menganggap Hagi melakukannya atas dasar cinta dan bentuk serta sikap patriotismenya pada negara melalui sepakbola sebagaimana yang sering diungkapkan Hagi.
"Aku akan melakukan apa pun untuk negaraku," prinsip Hagi dalam membela Rumania.
Sikapnya itu ternyata tidak hanya dimaklumi oleh rakyat Rumania, bahkan presiden FIFA kala itu, Sepp Baltter menganggap prilaku tempramennya sebagai sebuah kewajaran.
"Hagi adalah pemain hebat. Dia memang terlihat tempramen. Tapi itu hanyalah salah satu faktor yang membuatnya berbeda dengan legenda sepakboal lainnya," kata Blatter.
Jiwa patriotisme dan kepemimpinan yang tinggi dari seorang Hagi tidak hanya didedikasikan untuk negaranya. Di level klub, jiwa patriotisme dan kepemimpinan Hagi pun diakui oleh rekan-rekan satu timnya.
"Galatasaray tidak punya rasa takut sedikitpun selama Hagi ada di lapangan. Dia sangat kuat dan memberi rasa percaya diri. Dia memang terlahir untuk jadi seorang pemimpin," kata Bulent Korkmaz salah satu rekan satu timnya di Galatasaray.