3 Laga WO di Liga Indonesia yang Paling Kontroversial

Selasa, 9 Agustus 2016 17:17 WIB
Editor: Tengku Sufiyanto
 Copyright:

Kompetisi kasta tertinggi di Indonesia sudah di mulai sejak tahun 1933. Kala itu kompetisi tersebut bernama Perserikatan. Klub-klub yang mengikuti kompetisi era Perserikatan notabennya merupakan klub-klub pendiri Persatuan Sepakbola Seluruh Indonesia (PSSI).

Klub-klub tersebut antara lain, VIJ (Voetbalbond Indonesische Jakarta) atau Persija Jakarta, Bandoengsche Indonesische Voetbal Bond (BIVB) atau Persib Bandung, Persatuan Sepakbola Mataram (PSM) Yogyakarta, Vortenlandsche Voetbal Bond (VVB) Solo atau Persis Solo, Madioensche Voetbal Bond (MVB), Indonesische Voetbal Bond Magelang (IVBM), Soerabajashe Indonesische Voetbal Bond (SIVB) atau Persebaya Surabaya.

Berkembangnya zaman membuat kompetisi sepakbola di Indonesia semakin berkembang. Indonesia memiliki dua kompetisi yakni, Perserikatan dan Galatama.

Sampai pada akhirnya, dua kompetisi tersebut dilebur menjadi satu yakni Liga Indonesia. Klub-klub peserta yang mengikuti kompetisi paling bergengsi di Indonesia pun bertambah seiring berjalannya waktu dan format yang berlakukan.

Selanjutnya, kompetisi di Indonesia kembali mengalami perkembangan hingga menjadi Indonesia Super League (ISL). Sayang, ISL harus terhenti pada tahun 2015. Kala itu sepakbola Indonesia sedang dilanda konflik hebat antara PSSI dan pemerintah.

PSSI dibekukan Menteri Pemuda dan Olahraga (Menpora), Imam Nahwari per tanggal 17 April 2015. Peristiwa tersebut berakibat jatuhnya sanksi FIFA kepada Indonesia per tanggal 30 Mei 2015.

Hingga akhirnya, Menpora mencabut sanksi pembekuan kepada PSSI setahun lebih kemudian. Sanksi FIFA yang membelenggu Indonesia akhirnya juga ikut dicabut.

Di tengah carut-marut sepakbola Indonesia, ada kompetisi independen yang dijalankan PT Gelora Trisula Semesta (GTS). Sebuah perusahaan yang lahir dari operator liga di Indonesia, PT Liga Indonesia.

Kompetisi tersebut bernama Torabika Soccer Championship (TSC) 2016. Kini kompetisi tersebut masih berjalan hingga pekan ke-14.

Namun, ada beberapa laga yang ternyata mencoreng penyelenggaraan TSC 2016. Beberapa pertandingan harus diakhiri dengan sistem Walk Out (WO). Sudah ada dua laga yang diakhiri dengan WO.

Pertama, ada Persija Jakarta kontra Sriwijaya FC. Ketika itu, laga tersebut harus diakhiri dengan WO lantaran terjadi kerusuhan suporter Persija, The Jakmania. Sriwijaya FC pun dinyatakan menang WO dengan skor 3-0.

Kedua, ada laga Pusamania Borneo FC (PBFC) kontra Perseru Serui. Lucunya, laga tersebut berakhir dengan WO karena PBFC kehabisan tiket pesawat ke Serui. Maklum, moda pesawat terbang ke Serui memang susah untuk didapatkan. Perseru pun dinyatakan menang WO dengan skor 3-0.

Dua indsiden laga yang berakhir dengan WO tersebut bukan pertama kali terjadi. Sebelumnya sudah ada beberapa laga WO yang mewarnai jagad sepakbola nasional. Berikut 3 laga WO di kasta tertinggi Liga Indonesia yang paling menyita perhatian:

70