3 Terobosan PSSI dalam Lahirkan Pemain Bintang

Minggu, 2 Oktober 2016 15:55 WIB
Editor:
 Copyright:
Program PSSI Binatama (1980)

PSSI Binatama dapat dikatakan sebagai program perdana yang ditelurkan pemerintah. Program yang berlangsung pada tahun 1979 pada masa kepemimpinan Ali Sadikin sebagai Ketua Umum.

PSSI ini mengirimkan pemain-pemain terbaik Indonesia untuk menimba ilmu di negeri sepakbola Samba, Brasil. Program Binatama dapat dikatakan juga sebagai program atau cara Indonesia yang berdiplomasi lewat sepakbola. Sebab, pada saat itu pemerintah Indonesia tengah dihajar Negara anggota PBB, tentang menjajah Timor Timur.

Indonesia berharap dengan diplomasi lewat sepakbola ini, negara yang menentang dapat luluh. Maka dari itu, kenapa penunjukan Brasil sebagai destinasi program ini. Sebab, Brasil menjadi salah satu negara yang menentang Indonesia kala menjajah Timor Timur.

Program Binatama sendiri diarsiteki oleh kuartet pelatih, Sutjipto Suntoro, Sartono Anwar, Ipong Silalahi dan Jopie Timisela. Mereka menyeleksi kumpulan anak-anak muda berbakat se-Indonesia, yang rata-rata berusia 19 tahun. Dari seleksi ini mendapatkan 22 pemain dan siap diberangkatkan selama enam bulan, dari Oktober 1979 hingga Mei 1980 itu. Pemain-pemain tersebut antara lain.

Bambang Nurdiansyah (Arseto Solo), 

Bambang Sunarto dan, Mundari Karya (Jaka Utama Lampung), 

Endang Tirtana (Warna Agung), 

Subangkit (Persebaya Surabaya), 

Bonar Tobing (Jayakarta), 

Rully Nere (Warna Agung),

Budi Yohanis (Indonesia Muda Surabaya),

Aun Harhara, Suapri, dan David Sulaksmono (Jayakarta),

Nasir Salasa (PSM Makassar),

Didik Darmadi (Persis Solo),

Salim Alkatiri (Perkesa 78),

Haryanto (Tidar Sakti Magelang),

Berti Tutuarima (Bintang Timur Jakarta),

Chris Wakano (PMS Makassar),

Imam Hambali (Perkesa 78),

Yong Cahyono (Buana Putra Jakarta),

Yusmadi (Persiraja Banda Aceh),

GH Sutejo (Angkasa),

Joko Irianto (Persebaya Surabaya)

537