Liga Indonesia

Disebut Cuma Rekrut Pemain 'Sisa', Ini Penjelasan Djanur

Sabtu, 6 Januari 2018 05:33 WIB
Editor:
© Indosport/Kesuma Ramadhan
Pelatih Djajang Nurjaman tengah memberikan instruksi kepada skuat PSMS Medan. Copyright: © Indosport/Kesuma Ramadhan
Pelatih Djajang Nurjaman tengah memberikan instruksi kepada skuat PSMS Medan.

Demi mengarungi ketatnya Liga 1 musim 2018, PSMS Medan yang promosi dari Liga 2 coba mendatangkan sejumlah pemain lokal sarat pengalaman di sejumlah klub Liga 1.

Hanya saja, keraguan sempat hadir kala sebagian besar pemain yang merapat ke skuad PSMS merupakan pemain yang tak lagi dibutuhkan klub lamanya. Sebut saja Amarzukih, Jajang Sukmara, Erwin Ramdani, Yongki Ariwibowo, dan teranyar M. Roby.

Amarzukih resmi dilepas Persija setelah jarang masuk dalam skuad utama. Sementara Erwin Ramdani dilepas PS TNI kendati memberikan kontribusi hingga membuat tim berjuluk The Army bertahan di Liga 1.

© Kesuma Ramadhan/INDOSPORT
Pelatih PSMS Medan, Djajang Nurjaman, atau kerap disapa Djanur. Copyright: Kesuma Ramadhan/INDOSPORTPelatih PSMS Medan, Djajang Nurjaman, atau kerap disapa Djanur.

Begitu juga Yongki Ariwibowo. Mantan pemain Timnas Piala AFF ini juga bernasib sama, dilepas tim lamanya Barito Putera. Hal serupa juga dialami M Roby. Jasa mantan pemain Timnas Indonesia ini tak lagi dibutuhkan tim lamanya setelah sempat berkutat dengan cidera yang cukup lama. Sementara Jajang Sukmara memilih hengkang karena lebih sering menjadi penghangat bangku cadangan.

Dari sekian nama tersebut, hanya Firza Andika yang dianggap sebagai rekrutan terbaik. Selain belum pernah memperkuat klub profesional, Firza merupakan pemain Timnas U-19 asli Medan.

© Internet
Caption Copyright: InternetAmarzukih direkrut PSMS dari Persija.

Sang arsitek Djajang Nurjaman tak ingin mempersoalkan status pemain lokal rekrutannya. Menurut mantan Pelatih Persib Bandung ada beberapa alasan dirinya merekrut pemain yang dianggap sisa oleh sebahagian orang itu. Bagi Djanur tak semua pelatih memiliki pandangan yang sama akan kemampuan anak asuhnya.

"Bisa saja di sana gak dipakai, tapi di sini sangat dibutuhkan. Kita punya penilaian masing-masing tentang kualitas pemain," terang Djanur saat melakukan wawancara khusus dengan INDOSPORT  usai menggelar latihan di Stadion Mini Kebun Bunga Medan, Jumat (05/01/18) sore.

"Kita itu memilihnya kapan. Saat Liga 1 telah menyelesaikan kompetisi dan langsung berburu pemain, kita masih berlaga demi merebut tiket Liga 1. Bagaimana kita dapat pemain tenar seperi Hamkah Hamzah dll. Jelas dari sini saja kita terlambat," tegasnya.

© Herry Ibrahim/INDOSPORT
Yongki Ariwibowo Copyright: Herry Ibrahim/INDOSPORTYongki Ariwibowo dilepas Barito Putera ke PSMS.

Belum lagi, sejumlah pemain PSMS yang dipertahankan merupakan pemain muda yang minim pengalaman di liga. Kehadiran para pemain senior yang syarat pengalaman menjadi alasan lain dirinya merekrut nama-nama yang disebutkan sebelumnya di atas.

"Kita gak bisa berharap banyak dari pemain muda. Ini alasan kenapa saya juga membawa mereka," terang  Djanur.

Djanur tetaplah Djanur. Pelatih berpenampilan sederhana yang dikena jeli menyihir pemainnya. Terbukti kala dirinya dipercaya menukangi PSMS di pertengahan musim Liga 2 musim lalu. Di balik waktu yang singkat akan perkenalan bersama tim dan pemain kala itu, Djanur tetap mampu membuktikan kepiawaiannya.

Tak ada pemain yang dianggap istimewa kala itu. Bahkan, Djanur justru memboyong I Made Wirahadi dari Bali United dengan status pinjaman. Wirahadi yang kala itu jarang diturunkan karena kalah bersaing dengan Irfan Bachdim dan pemain tenar lainnya, langsung bereaksi saat mendapatkan kepercayaan dari Djanur. 

Dirinya pun menunjukkan kualitas permainannya. Ya, Wirahadi coba memberi isyarat jika dia layak diperhitungkan lewat penampilan apik di setiap laga yang dilakoninya kala itu.

Gol demi gol pun ditorehkan melalui instingnya. Ini sekaligus menjawab keraguan publik pecinta bola Kota Medan hingga berhasil membawa PSMS lolos ke Liga 1.

Hal ini jugalah yang mungkin dipertahankan Djanur demi ambisinya membawa PSMS masuk lima besar. Sebagai tim pendatang baru setelah lama terjerembab di lubang degradasi, mungkin ini terlalu naif. Tapi tidak bagi Djanur. Optimisme tinggi tetap diusungnya dengan strategi memadupadankan pemain senior dan minim pengalaman ditambah sihir dari tangan dinginnya, tak ada yang tak mungkin tentunya.

250