Nadim, Kabur dari Taliban Jadi Pesepakbola Terbaik Eropa
Tidak lama sesudah itu, Nadim, meskipun dengan keterbatasannya dalam bahasa Inggris maupun Denmark, menanyai pelatih-pelatih setempat apakah ia dapat bermain. Ia bahkan mengingat turnamenpertamanya, sebuah kompetisi lokal yang tidak memiliki tim perempuan.
"Saya berada di tim laki-laki dan kami bermain melawan tim yang memiliki beberapa pemain yang sangat baik, beberapa dari tim nasional U-15. Saat itu, saya pikir itu adalah hal besar," kenangnya dikutip dari laman UEFA.
"Saya tidak berpikir saya bermain sejak awal. Kami saat itu tertinggal 1-0, saya masuk, mencetak gol pertama dan memberikan assist untuk gol kedua."
"Biasanya setelah setiap pertandingan mereka memberi trofi kecil untuk pemain terbaik dan saya mendapatkannya -- itu adalah hal yang luar biasa, salah satu momen-momen pertama saya menyadari bahwa saya tidak buruk (dalam sepakbola)," tambahnya.