Liga Indonesia

Vakumnya Kompetisi 2015: Ada Final Berdarah di Jateng Saat Puasa

Sabtu, 25 April 2020 19:42 WIB
Penulis: Prabowo | Editor:
© Ronald Seger Prabowo/INDOSPORT
Para pemain PSIS Semarang merayakan gelar juara Piala Polda Jateng 2015. Copyright: © Ronald Seger Prabowo/INDOSPORT
Para pemain PSIS Semarang merayakan gelar juara Piala Polda Jateng 2015.

INDOSPORT.COM - Kompetisi sepak bola Indonesia tengah vakum akibat pandemi Covid-19. Belum diketahui kapan semua ajang baik Liga 1 dan 2 kembali berlanjut, usai distop sejak pertengahan Maret silam.

Namun, ini bukan kali pertama aktivitas sepak bola Indonesia berhenti. Sebut saja saat edisi 1998 di mana kompetisi berhenti setengah jalan, imbas dari kerusuhan saat krisis moneter.

Lalu hal serupa juga terjadi 2015 silam saat kompetisi sepak bola Tanah Air dan PSSI dibekukan oleh FIFA. Praktis, banyak  klub akhirnya juga vakum dan membubarkan tim karena tidak ada aktivitas.

Cerita berbeda muncul saat pengurus tim Divisi Utama di Jawa Tengah bertemu dan menggagas sebuah turnamen. Menggandeng KSP Intidana sebagai sponsor dan juga Polda Jawa Tengah, ajang itu resmi bergulir dengan nama Piala Polda Jawa Tengah dengan kick off 27 Mei.

Tujuh tim ikut berpartisipasi yakni PSIS Semarang, Persis Solo, Persijap Jepara, dan PSIR Rembang (Grup A). Serta PSCS Cilacap, Persibas Banyumas, dan Persip Pekalongan (Grup B).

Turnamen itu sejatinya berlangsung lancar dan kondusif sejak fase penyisihan. Bahkan Piala Polda Jateng jadi momen manis kembalinya hubungan harmonis suporter PSIS dan Persijap di fase grup.

Namun, semua berubah saat final leg pertama antara PSIS melawan Persis di Stadion Jatidiri, Sabtu 4 Juli 2015. Bentrokan antarsuporter pecah! Ironisnya, kerusuhan itu terjadi saat umah muslim sedang menjalankan ibadah puasa.

Tanda-tanda bentrokan sejatinya sudah terjadi sebelum kick off. Sejumlah oknum suporter PSIS di tribun utara dan sebagian tim tamu di sisi utara terlibat saling lempar. 

© Ronald Seger Prabowo/INDOSPORT
Kericuhan pecah saat leg pertama final Piala Polda Jateng antara PSIS Semarang melawan Persis Solo di Stadion Jatidiri, 4 Juli 2015. Copyright: Ronald Seger Prabowo/INDOSPORTKericuhan pecah saat leg pertama final Piala Polda Jateng antara PSIS Semarang melawan Persis Solo di Stadion Jatidiri, 4 Juli 2015.

Puncaknya terjadi saat laga memasuki menit ke-28, atau sesaat setelah tuan rumah unggul lewat Johan Yoga Utama. Gol itu lantas memicu aksi pelemparan botol di tribun suporter tim tamu. Selain itu, adupukul dan pelemparan benda keras seperti pecahan ubin hingga botol juga berterbangan. Bahkan ledakan petasan mengarah ke tribun media. 

Salah satu jurnalis Harian Wawasan, Jaka Nuswantara terkena imbasnya. Jaka terkena lemparan petasan yang membuat telapak tangannya melepuh. "Petasan lengket di tangan lalu meledak," ungkapnya saat itu.

Bentrokan yang meluas membuat banyak penonton terluka. Situasi yang tak kondusif lagi memaksa perangkat pertandingan yang saat itu dipimpin wasit Maulana akhirnya tak berlanjut

"Laga tak mungkin dilanjutkan. Kami serahkan sepenuhnya situasi ricuh itu kepada pihak keamanan. Kami sangat kecewa karena ulah suporter yang tidak dewasa," kecam CEO PSIS, Yoyok Sukawi setelah berdiskusi dengan perwakilan aparat keamanan, panpel, dan pengurus Persis.

Setelah putusan itu, bentrokan tak juga reda. Petugas kepolisian melepaskan tembakan melalui mobil water cannon hingga gas air mata untuk meredakan massa. 

Setelah cukup lama, situasi baru bisa terkendali saat sudah melewati tengah malam. Bahkan tim Persis dan sejumlah awak media yang tertahan di stadion baru bisa kembali ke hotel sekitar pukul 01.00 WIB, atau menjelang santap sahur dengan diangkut mobil Pengendalian Massa (Dalmas) Polda Jateng.

Lanjutan final pun sempat terjadi tarik ulur yang cukup lama, sebelum diputuskan lebih dulu memainkan leg kedua di Stadion Manahan, 30 Juli. Persis gagal memaksimalkan status tuan rumah setelah hanya bermain imbang tanpa gol.

Lantas, sisa duel leg pertama kembali dilangsungkan tiga hari berselang dengan keunggulan sementara PSIS 1-0. Persis sempat menyamakan skor melalui Ferryanto. Namun, tim Laskar Mahesa Jenar memastikan juara usai mencetak gol lewat penalti Fauzan Fajri jelang laga bubar.