In-depth

Nizar Trabelsi, Dari Sepak Bola ke Medan Jihad

Selasa, 14 Juli 2020 19:51 WIB
Penulis: Bayu Wira Handyan | Editor: Isman Fadil
© BBC World
Osama bin Laden, sosok bapak yang ditemukan oleh Nizar Trabelsi saat dirinya kehilangan arah. Copyright: © BBC World
Osama bin Laden, sosok bapak yang ditemukan oleh Nizar Trabelsi saat dirinya kehilangan arah.
Nizar Trabelsi, Dari Sepak Bola ke Medan Jihad

Babak Baru Kehidupan Trabelsi

Babak baru kehidupannya dimulai. Trabelsi didepak dari skuat Dusseldorf dan dirinya terpaksa harus merapat ke Wuppertaler SV yang saat itu berlaga di Bundesliga 2 (kasta kedua Liga Jerman).

Dalam periode ini, paham-paham Al-Qaeda telah merasuk ke dalam diri Trabelsi. Seorang pesepakbola yang digadang-gadang bakal menjadi fenomena baru di benua Afrika ini kemudian menjadi bagian dari jaringan teroris Al-Qaeda pimpinan Osama bin Laden yang saat itu sedang tumbuh dan bersiap untuk melancarkan teror ke seluruh penjuru dunia.

Pertama kalinya Trabelsi bersinggungan dengan Al-Qaeda adalah ketika dirinya mendengarkan kajian yang dibawakan oleh Abu Qatada dan Abu Hamza, 2 imam yang oleh FBI serta pihak Kepolisian Spanyol teridentifikasi sebagai pentolan Al-Qaeda di Eropa.

Lalu, jalan hidup Trabelsi menjadi semakin rumit kala dirinya memutuskan untuk mengunjungi Afghanistan. Tercatat, kalender menunjukkan angka 1998 saat Trabelsi memutuskan untuk tenggelam dalam fanatisme dan radikalisme. Di tahun tersebut pula, dirinya secara resmi tercatat sebagai salah satu anggota Al-Qaeda.

Beberapa kali Trabelsi mengunjungi Afghanistan dan bahkan bertemu empat mata dengan Osama bin Laden. Mereka berdua bahkan dikabarkan pernah duduk dan menikmati secangkir teh bersama.

“Bin Laden berkata pada saya jika saya sudah dianggap sebagai putra kandungnya sendiri. Hal itulah yang membuat saya sangat percaya padanya,” ujar Nizar Trabelsi saat persidangan kasus terorisme yang dia lakukan dikutip dari Marca.

Setelah beberapa kali pertemuan, Trabelsi kemudian diikutsertakan dalam sebuah misi untuk meruntuhkan patung Buddha yang terletak di daerah Bamiyan, Afghanistan.

Seiring berjalannya waktu, Trabelsi kemudian lebih banyak menerima misi khusus dari Al-Qaeda. Satu misi yang membuatnya menjadi pesakitan dalam tahahan sampai saat ini adalah ketika dirinya berencana untuk melakukan serangan ke Kedutaan Besar Amerika Serikat yang terletak di Paris, Prancis.

Belum sempat melakukan aksinya, rencana tersebut terlanjur bocor dan Trabelsi ditangkap di sebuah komplek apartemen yang terletak di Uccle, daerah dekat Brussels, Belgia pada 13 September 2001 atau 2 hari setelah tragedy 9/11.

Saat ini dirinya diketahui berada di penjara dengan tingkat keamanan maksimal yang terletak di Virginia, Amerika Serikat. Trabelsi divonis hukuman penjara seumur hidup atas aksi terorisme yang dia lakukan dulu.

Mungkin nama Trabelsi adalah nama yang asing bahkan bagi para pecinta sepakbola Eropa sekalipun. Tetapi namanya tercatat sebagai salah satu korban cuci otak yang dilakukan Al-Qaeda yang menyasar para pesepakbola muslim Eropa yang lemah iman dan terlena dalam kehidupan duniawi.