In-depth

Sejarah Kebangkitan Trio Belanda nan Legendaris Milik AC Milan 1990-an

Rabu, 9 Desember 2020 08:05 WIB
Editor: Indra Citra Sena
© Twitter Soy Calcio
Selebrasi pemain AC Milan usai memastikan diri menjuarai Piala Interkontinental, 9 Desember 1990. Copyright: © Twitter Soy Calcio
Selebrasi pemain AC Milan usai memastikan diri menjuarai Piala Interkontinental, 9 Desember 1990.

INDOSPORT.COM - AC Milan era akhir 1980-an hingga awal 1990-an identik dengan Trio Belanda yang berisikan Marco van Basten, Ruud Gullit, dan Frank Rijkaard. Ketiganya berandil mempersembahkan sederet titel bergengsi, baik di level domestik, kontinental, maupun dunia.

Kendati begitu, kegagalan timnas Belanda di Piala Dunia 1990 membuat Van Basten, Gullit, dan Rijkaard mendapatkan sorotan lebih dari media internasional. 

Keharmonisan hubungan mereka yang telah lama terjalin bahkan sempat dikabarkan retak saat kompetisi memasuki musim baru (1990-1991).

Isu keretakan Trio Belanda mengiringi partisipasi AC Milan di Piala Interkontinental 1990 Sebagian kalangan menilai klub berjulukan I Rossoneri alias Si Merah-Hitam itu akan kesulitan meladeni jawara Copa Libertadores, Club Olimpia.
 
Anggapan tersebut terbukti salah besar karena Trio Belanda justru memperlihatkan kesolidan di atas lapangan, 9 Desember 1990. AC Milan menang telak 3-0 berkat sumbangsih dua gol Frank Rijkaard (menit ke-43 dan 65) serta Giovanni Stroppa (62’).

Trio Belanda terlibat aktif dalam tiga proses gol yang bersarang ke gawang Olimpia. Gol pertama AC Milan tercipta setelah Rijkaard berhasil menuntaskan operan matang dari Ruud Gullit, sedangkan dua gol tambahan merupakan buah usaha keras Marco van Basten.    

“Mereka benar-benar hebat. Bukan sekadar pencipta peluang tapi juga pengatur serangan Milan,” ujar pelatih Club Olimpia, Luis Cubilla, seperti dikutip dari Tabloid BOLA edisi minggu kedua Desember 1990.

Kegemilangan Trio Belanda memberikan rasa lega kepada pelatih Arrigo Sacchi. Pasalnya, AC Milan menyambangi Jepang dengan kondisi minus dua pemain penting, yaitu Carlo Ancelotti dan Alberigo Evani.

Namun, kejeniusan Sacchi dalam meracik strategi membuat AC Milan bisa tampil maksimal. Dia menerapkan resep baru berupa pergeseran posisi Gullit yang agak melebar ke sayap agar ruang gerak sang pemain untuk berkreasi bisa lebih luas.

Sacchi juga tak lupa menggarisbawahi penampilan prima dua gelandang, Angelo Carbone dan Gianluca Gaudenzi, yang bertugas menggantikan peran Ancelotti dan Evani, serta pengaruh besar Roberto Donadoni pascapulih dari bekapan cedera.  

“Memang terdapat beberapa kendala di awal, tapi untunglah semua dapat teratasi dengan baik. Seluruh pemain tampil prima sepanjang 90 menit,” cetus Arrigo Sacchi selepas laga.

Susunan Pemain:

AC Milan (4-4-2): 1-Pazzagli; 2-Tassotti, 6-Baresi, 4-Costacurta, 3-Maldini (15-Galli 22'); 8-Donadoni (13-Gaudenzi 82'), 7-Carbone, 5-Rijkaard, 11-Stroppa; 9-Van Basten, 10-Gullit
Cadangan: 12-Rossi, 15-Nava, 16-Massaro
Pelatih: Sacchi

Club Olimpia (4-4-2): 1-Almeida; 2-Caceres, 5-Fernandez, 3-Ramirez (14-Chamas 48'), 4-Suarez; 8-Balbuena, 7-Jara Heyn (16-Cubilla 68'), 6-Guasch, 10-Monzon; 11-Samaniego, 9-Amarilla
Cadangan: 12-Coronel, 13-Sanabria, 15-Nery Franco
Pelatih: Cubilla (Uru)

Stadion: Tokyo National (60.228)
Gol: Rijkaard 43', 65', Stroppa 62'
Wasit: Roberto Wright (Bra)
Kartu Kuning: Fernandez (C)
Kartu Merah: -

IDS Emoticon Suka
Suka
0%
IDS Emoticon Takjub
Takjub
0%
IDS Emoticon Lucu
Lucu
100%
IDS Emoticon Kaget
Kaget
0%
IDS Emoticon Aneh
Aneh
0%
IDS Emoticon Takut
Takut
0%
IDS Emoticon Sedih
Sedih
0%
IDS Emoticon Marah
Marah
0%