Salah satu manajer sekaligus pelatih tinju, Armin Tan mengkritisi minimnya perhatian yang diberikan oleh pemerintah untuk olahraga di atas ring tersebut. Ia menilai saat ini, dunia tinju di Indonesia seolah sudah mati karena belum adanya juara baru yang dilahirkan.
"Dunia tinju kita sudah mati saat ini, jadi sekarang kami manajer bertanggung jawab dalam membina petinju. Di sini kami membina untuk meraih prestasi dan itu tidak hanya soal skill tetapi juga manajemen," ujar Armin Tan yang juga merupakan pemilik Sasana Armin Tan Boxing Camp di kawasan Cengkareng, Jakarta Barat.
Preskon tinju WBC Internasional"Perjuangan kami seolah tidak dihargai pemerintah, maka kami akan tunjukkan untuk berprestasi lebih tinggi," sambungnya.
Lebih lanjut, Armin Tan juga menyayangkan kurangnya dukungan pemerintah, padahal para petinju yang bertarung juga kerap mengharumkan nama Indonesia. Namun, ia memaklumi hal itu dan enggan membicarakan lebih jauh karena hal itu dinilai bagian dari perjalanan dunia tinju profesional.
"Saat ini banyak dukungan tetapi tinju pro tidak ada hubungannya dengan pemerintah. Memang mereka hanya perhatian ke Pertina saja, tetapi lucunya, di sini kita juga bawa nama Indonesia," tutupnya.
Beberapa atlet yang akan bertanding di ajang Reborn for ChampionsSebagai bukti dalam membina petinju profesional, Armin Tan yang juga sebagai promotor, dalam waktu dekat ini akan menggelar ajang tinju skala internasional bertajuk Reborn of Champions. Event itu akan berlangsung 30 September mendatang di kawasan BSD, Tengerang.
Pada acara Reborn of Champions nanti, akan ada pertarungan memperebutkan empat sabuk yakni satu gelar WBC Internasional, dua sabuk WBC Asia, dan satu sabuk UBO Asia Pacific.