Deretan Atlet Indonesia yang Jadi Korban Pasca Gestok 65
Bagi pecinta bulutangkis tentu sudah tak asing mendengar nama Tan Joe Hok. Ia adalah pebulutangkis pertama negeri ini yang meraih gelar All England.
Bersama enam pebulutangkis lain, Ferry Sonneville, Eddy Yusuf, Olich Solihin, Lie Po Djian, Tan King Gwan, dan Njoo Kim Bie, Tan juga suskses memboyong Piala Thomas untuk pertama kali ke Tanah Air.
Tidak hanya publik dalam negeri yang mengakui kehebatan dari Tan, pada usia 22 tahun seperti dilansir dari Tempo.co, nama Tan diulas secara mendetail oleh majalah olahraga ternama dunia, Sport Illustrated.
"Saya disebut sebagai pemain tak terkalahkan. Namun, di balik sukses itu, saya sebenarnya hanya rumput liar yang mesti hidup di segala keadaan," kata Tan.
Mengapa Tan mengatakan hal itu? Mungkin karena Tan yang dulu mendapat puja puji dari publik tanah air karena prestasinya di ajang bulutangkis Internasional, langsung tak dianggap setelah peristiwa Gestok.
"Sebagai warga keturunan, saya dan teman-teman mulai mendapat perlakuan berbeda. Kami seperti dianggap bukan bagian dari bangsa ini. Saya bahkan harus mengubah nama saya menjadi Hendra Kartanegara. Saya yang dulu dijunjung tinggi setinggi langit di bawah bendera Merah-Putih harus antre berjam-jam membaur dengan warga Glodok dan daerah lain demi mendapat surat bukti bahwa saya orang Indonesia," kenang Tan.
Meski begitu Tan tak mau terus mendendam, meski pernah tinggalkan Indonesia pada 1969 bersama anak dan istri untuk jadi pelatih bulutangkis di Hongkong dan Meksiko, Tan pada 1972 kembali ke tanah air.
"Bersama Tahir Djide, saya menjadi pelatih pelatnas tim Piala Thomas 1984," kata Tan.
Di final perebutan Piala Thomas di Kuala Lumpur, Malaysia, tim Indonesia, yang terdiri atas Liem Swie King, Hastomo Arbi, Icuk Sugiarto, Christian Hadinata, Hadibowo, dan Kartono, akhirnya sukses mengalahkan Han Jian dan kawan-kawan dari China.