Perjalanan Djokovic dari Anak Gunung Hingga Jadi Nomor Satu
Keluarga Djokovic tinggal selama 17 tahun di kaki gunung. Hal tersebut tak lepas karena faktor perang saudar yang tengah marak di kota-kota besar kawasan Balkan. Jika diratakan secara keseluruhan, Srdjan mengungkapkan bahwa sang anak bisa menghabiskan kehidupan selama delapan bulan di gunung setiap tahunnya.
Situasi itu memiliki suatu yang positif bagi pertumbuhan Djokovic. Selain jauh dari pengelihatan dan pendengaran tentang kekerasan perang, pria kelahiran 22 Mei 1987 itu juga dapat tumbuh dengan sehat.
Selain itu, latar belakang kehidupan masa kecil dengan rasa kasih sayang yang tulus ternyata berdampak positif pada perkembangan Djokovic. Pria yang meraih gelar Australia Terbuka 2016 ini memiliki sifat yang teramat sensitif.
Menurut Srdjan, sisi sensitif anaknya terlihat pada usia 4 tahun, saat itu paman Djokovic memberi hadiah jaket, namun dia tak mau menerimannya dan sang paman pun menanyakan alasan penolakan tersebut.
“Mengapa kamu tidak mau menerimanya?” ucap sang paman. Djokovic pun menjawab pertanyaan adik Srdjan tersebut, “jika saya mengambil ini (jaket) dari kamu, kamu tidak punya barang untuk dijual besok,” ujar Djokovic, kata sang ayah.
Saat itu Djokovic sudah mengetahu bahwa sang paman adalah seseorang yang mencari uang dengan cara berdagang pakaian. Mengetahu hal tersebut, peraih 11 Garand Slam itu seperti tidak ingin mengurangi rezeki sang paman.