Tanpa Pandang SARA untuk Satu Nama, Timnas Indonesia
Tahun 2007, Indonesia untuk pertama kalinya ditunjuk Induk Federasi Sepakbola Asia (AFC) menjadi tuan rumah Piala Asia. Indonesia tidak sendirian bertindak sebagai tuan rumah. Ada Malaysia, Vietnam, dan Thailand yang menemani Indonesia.
Indonesia tergabung di Grup D bersama lawan kuat seperti Arab Saudi, Bahrain, dan Korea Selatan. Tanpa memikirkan faktor teknis dan non-teknis, masyarakat Indonesia tetap optimis Timnas Garuda dapat berbicara banyak di kancah turnamen sepakbola empat tahunan paling bergengsi di daratan Asia tersebut.
Tanggal 10 Juli 2007, masyrakat Indonesia berbondong-bodong dari seluruh penjuru kota dan provinsi datang ke SUGBK. Mereka datang bersama pacar, istri atau suami, rekan kerja, sahabat, dan teman. Mereka tidak pandang bulu dan SARA untuk satu nama mendukung Timnas.
Sayup-sayup 'Indonesia' terdengar menggema di kawasan SUGBK. Tribun SUGBK bergetar kala Bambang Pamungkas Cs masuk ke lapangan untuk menghadapi Bahrain.

Kemeriahan Piala Asia 2007.
Tribun SUGBK makin bergetar kala Budi Sudarsono menciptakan gol pertama untuk Indonesia kontra Bahrain. Sempat terdiam kala Syaed Mahmood jalal Al Wadaei menciptakan gol untuk menyamakan kedudukan. Namun, tribun SUGBK seperti mau rubuh ketika Bambang Pamungkas menciptakan gol kemenangan Indonesia atas Bahrain dengan skor 2-1.
Kemenangan itu membuat masyrakat Indonesia makin banyak datang ke SUGBK. Antrean panjang tiket tidak terhindarkan. Sayang, Indonesia kalah 1-2 dari Arab Saudi di pertandingan kedua. Dua gol kemenangan Al-Qahtani dan Al Harthi memupus torehan Elie Aiboy untuk Indonesia.
Di pertandingan terakhir, Indonesia menghadapi Korea Selatan. Skuat Garuda dituntut menang atau menorehkan hasil imbang agar melaju ke babak perempatfinal.
Masyarakat Indonesia kian memberikan kobaran semangat untuk anak-anak asuhan Ivan Kolev agar dapat mewujudkan mimpinya tersebut. Sayang, Indonesia takluk 0-1 dari Korea Selatan lewat gol Kim Jung-woo. Indonesia pun gugur di Piala Asia 2007. Meski begitu, momen Piala Asia 2007 bisa dijadikan bukti nyata bahwa Timnas Indonesia dapat mempersatukan semua golongan.