Demam Stefano Lilipaly dan Kerja Ekstra PSSI Pantau Bakat Anak Negeri
Performa Stefano Lilipaly sepanjang gelaran Piala AFF 2016 menuai pujian dari publik sepakbola nasional. Padahal sebelumnya, pemanggilan Lilipaly dipandang sebagai sesuatu yang mubazir.
Alfred Riedl yang saat itu menjabat sebagai pelatih Timnas Indonesia mendapat sejumlah pertanyaan soal pemanggilan ini. Pasalnya, Lilipaly merupakan satu dari sejumlah pemain naturalisasi yang dianggap gagal.
Namun Riedl tetap menjalankan rencana dan memasukkan Lilipaly dalam daftar skuatnya. Hasilnya pemain kelahiran Arnhem, Belanda, tersebut mampu menjadi inspirator permainan sepanjang turnamen.
Selebrasi para pemain Indonesia saat merayakan gol Stefano Lilipaly ke gawang Singapura.Pemain berusia 26 tahun ini pun membuat 2 gol krusial dalam sejumlah pertandingan menentukan. Pertama gol melawan Singapura yang mengantar Indonesia ke semifinal, serta gol melawan Vietnam di leg kedua semifinal yang mengantar Indonesia ke final.
Meskipun gagal membawa Indonesia untuk menjadi juara, Lilipaly dianggap bermain dengan hatinya. Meskipun mendapat sejumlah keraguan dari publik Tanah Air, pemain yang memperkuat SC Telstar ini tetap bangga berkostum Merah Putih.
Imam Nahrawi berjanji akan berjalan simultan dengan PSSI untuk mengembangkan sepakbola nasional.'Demam' Lilipaly pun berlanjut usai gelaran Piala AFF 2016. Pemerintah melihat sisi positif dari 'hati' yang diberikan Lilipaly untuk Skuat Garuda.
Imam Nahrawi selaku Menpora langsung menegaskan wacana untuk memantau sejumlah bakat muda Indonesia di luar negeri. Menpora menilai bahwa kebijakan naturalisasi tak perlu dilakukan jika sejak awal PSSI memiliki data yang jelas soal sejumlah pemain Indonesia yang memiliki kualitas prima di luar negeri.