In-depth

Sejarah Kegagalan AC Milan Lampiaskan Dendam Kesumat di Piala Interkontinental

Senin, 14 Desember 2020 08:05 WIB
Editor: Indra Citra Sena
© Twitter Boca Juniors
Striker AC Milan, Andriy Shevchenko, berduel dengan pemain Boca Juniors dalam pertandingan Piala Interkontinental, 14 Desember 2003. Copyright: © Twitter Boca Juniors
Striker AC Milan, Andriy Shevchenko, berduel dengan pemain Boca Juniors dalam pertandingan Piala Interkontinental, 14 Desember 2003.

INDOSPORT.COM - Dendam dan kebencian. Sepasang kata berkonotasi negatif ini mewarnai duel penguasa Eropa (Liga Champions), AC Milan, melawan kampiun Amerika Latin (Copa Libertadores), Boca Juniors, di panggung Piala Interkontinental, 14 Desember 2003.

AC Milan menyimpan dendam terhadap pelatih Boca Juniors kala itu, Carlos Bianchi, lantaran pernah mengubur mimpi tim Gli Invicibili (julukan Milan era 1994) menjuarai Piala Interkontinental sembilan tahun terdahulu.

Bianchi, yang menukangi Velez Sarsfield pada 1994, membungkam AC Milan dua gol tanpa balas sekalipun timnya cuma bermaterikan 10 pemain lokal plus satu penjaga gawang jenius asal Paraguay, Jose Luis Chilavert.

Berbanding terbalik dengan AC Milan yang berisikan bintang-bintang top Eropa mulai dari kapten Franco Baresi, Paolo Maldini, Roberto Donadoni, Demetrio Albertini (Italia), Marcel Desailly (Prancis), Zvonimir Boban (Kroasia), hingga Dejan Savicevic (Yugoslavia).

Bermodal titel Liga Champions 2002-2003, AC Milan tampak optimistis bisa menuntaskan dendam tersebut. Hal ini terungkap dari pernyataan kapten legendaris I Rossoneri, Maldini.

Legenda berjuluk La Bandiera Rossonera alias Si Bendera Merah-Hitam itu tampak begitu ingin gantian mengalahkan Carlos Bianchi pada edisi 2003 sekaligus mempersembahkan Piala Interkontinental keempat bagi AC Milan. Andriy Shevchenko pun mengamini pernyataan sang kapten.

“Saya bertekad membawa AC Milan menjuarai Piala Interkontinental yang setara dengan Piala Dunia versi klub,” kata Sheva di Tabloid BOLA edisi 1.369 (Jumat, 12 Desember 2003).

Namun, harapan Paolo Maldini dan Andriy Shevchenko mesti kandas di atas rumput Stadion Yokohama International. Dendam AC Milan rupanya masih kalah besar dari kebencian yang dipendam oleh seluruh pemain Boca Juniors.

Asal-usul kebencian Boca tak diketahui secara pasti mengingat Azul y Oro (Si Biru-Emas) baru pertama kali berjumpa AC Milan di ajang resmi. Boleh jadi sikap itu hanya sekadar provokasi atau perang psikologis untuk merusak konsentrasi kubu seberang.

Toh rasa benci dadakan tersebut membuat Boca memperlihatkan mental tak mau kalah. AC Milan barangkali membuka skor terlebih dulu via sepakan Jon Dahl Tomasson pada menit ke-23, tapi Boca Juniors langsung membalas berselang lima menit kemudian berkat aksi Mattias Donnet.

Berikutnya, permainan disiplin disertai semangat juang tinggi Boca menyulitkan AC Milan mengembangkan permainan. Pertandingan ini bahkan harus berlanjut ke babak adu penalti karena skor imbang 1-1 bertahan selama 120 menit.

Di babak ini, kiper Boca Juniors, Roberto Abbondanzieri, unjuk gigi dengan mementahkan tiga dari empat eksekusi AC Milan, yakni Andrea Pirlo, Clarence Seedorf, dan Alessandro Costacurta. Dia hanya kecolongan sekali oleh Rui Costa, itu pun arah sepakanya bisa ditebak.

Penampilan heroik Abbondanzieri berimbas positif terhadap tingkat kepercayaan diri rekan setim yang menjadi eksekutor. Tiga nama, Rolando Schiavi, Donnet, dan Raul Alfredo Cascini, menunaikan tugasnya dengan sempurna, sementara Sebastian Batagglia gagal.

"Boca bermain penuh kedisiplinan. Penempatan posisi mereka di atas lapangan sangat bagus pada malam itu," ujar pelatih AC Milan waktu itu, Carlo Ancelotti, usai laga.

Jadilah Boca Juniors merengkuh titel Piala Interkontinental ketiga setelah 1977 dan 2000. Pesta semakin lengkap dengan terpilihnya Donnet sebagai pemain terbaik sehingga berhak menerima hadiah berupa satu unit mobil.

Bukan cuma Boca Juniors yang merayakan keberhasilan ketiga malam itu. Carlos Bianchi juga menorehkan pencapaian serupa (dua kali bareng Boca dan sekali bersama Velez Sarsfield). Dia mencatat rekor pelatih paling sering juara Piala Interkontinental sepanjang masa.

Susunan Pemain:

AC Milan (4-3-1-2): 1-Dida; 2-Cafu, 19-Costacurta, 3-Maldini, 26-Pancaro; 20-Seedorf, 21-Pirlo, 8-Gattuso (22-Ambrosini 102'); 22-Kaka (10-Rui Costa 77'); 15-Tomasson (9-Inzaghi 69'), 7-Shevchenko
Cadangan: 77-Abbiati, 4-Kaladze, 24-Laursen, 27-Serginho
Pelatih: Ancelotti

Boca Juniors (4-3-1-2): 1-Abbondanzieri; 14-Perea, 2-Schiavi, 6-Burdisso, 3-Rodriguez; 5-Battaglia, 22-Cascini, 8-Cagna; 18-Donnet; 10-Iarley, 7-Schelotto (9-Tevez 73')
Cadangan: 12-Caballero, 4-Jerez, 11-Colautti, 13-Crosa, 16-Vargas, 20-Villarreal
Pelatih: Bianchi

Stadion: Yokohama International (66.757)
Gol: Tomasson 23'/Donnet 28'
Penalti: Pirlo (gagal), Rui Costa (sukses), Seedorf (gagal), Costacurta (gagal)/Schiavi (masuk), Battaglia (gagal), Donnet (masuk), Cascini (masuk)
Wasit: Ivanov (Rus)
Kartu Kuning: Kaka, Cafu (M)/Perea (B)
Kartu Merah: -

IDS Emoticon Suka
Suka
0%
IDS Emoticon Takjub
Takjub
0%
IDS Emoticon Lucu
Lucu
0%
IDS Emoticon Kaget
Kaget
0%
IDS Emoticon Aneh
Aneh
0%
IDS Emoticon Takut
Takut
0%
IDS Emoticon Sedih
Sedih
0%
IDS Emoticon Marah
Marah
0%