IBL Indonesia 2017

(ANALISIS) 4 Tim Berpeluang Juara: Satria Muda Terdepan, Mengapa?

Rabu, 18 Januari 2017 16:27 WIB
Editor: Yohanes Ishak
 Copyright:
W88 News Aspac Jakarta

Sebagai salah satu tim basket terbesar di Indonesia, Aspac kerap ditakuti oleh para lawannya. Sayang, dapat dikatakan dalam beberapa tahun terakhir, permainan tim asal Jakarta ini mulai kurang konsisten.

Contohnya adalah mereka kerap kehilangan fokus dan tidak konsisten saat memasuki menit-menit akhir laga, sehingga tim lawan pun dapat mengembalikan kedudukan yang menyebabkan mereka kalah.

Pada perempatfinal IBL 2014/15 misalnya (kala itu masih bernama NBL), mereka kalah dari tim kuda hitam, Stadium Jakarta dengan skor tipis 67-65.

Begitu pula di semifinal musim berikutnya, pada babak semifinal, mereka dihajar oleh Pelita Jaya Jakarta dalam laga best of three (pertandingan yang digelar tiga kali, tim yang menang dua kali berhak melaju ke babak selanjutnya).

Pada laga itu, Aspac kalah dua kali dengan skor 55-76 dan 58-60. Padahal, dalam laga tersebut, mereka dapat dikatakan cukup mendominasi jalannya pertandingan dengan baik.

Aspac terakhir juara di musim 2013/14 di mana kala itu kompetisi masih bernama NBL (National Basketball League) Indonesia. Dua musim tidak juara, pastinya Aspac tidak ingin kembali gagal untuk yang ketiga kalinya.

Pada musim 2016/17 kali ini, mereka pasti mengusung target tinggi untuk membawa trofi juara itu kembali. Ditinggal dua mantan kapten yang juga pemain seniornya, yaitu Xaverius Prawiro dan Mario Gerungan, serta satu pemain andalannya, Ebrahim Enguio 'Biboy' Lopez tentu akan membuat kekuatan mereka sedikit berkurang.

Beruntung, Aspac telah memiliki motor serangan yang mumpuni, yaitu Andakara Dhyaksa Prastawa, penembak jitu, Oki Wira Sanjaya, serta big man masa depan tim, Kristian Liem.

Ketiga pemain itu seakan menjadi sosok penting dalam tim, sementara keberadaan pemain paling senior Aspac, Fandi Andika Ramadhani diharapkan mampu menjadi mentor yang baik bagi para juniornya.

Hadirnya dua pemain asing yang sama-sama berposisi sebagai pemain center, yaitu Anthony Ray Hargrove Jr dan Pierre Henderson memang akan menjadi warna baru bagi mereka.

Namun, pastinya keduanya juga membutuhkan waktu alias beradaptasi dengan gaya bermain Aspac serta atmosfer kompetisi basket di Indonesia.

Jika melihat peluang juara mereka di musim ini, dapat dikatakan Aspac cukup berat. Hal itu tak lepas karena saat ini, Prastawa dkk sedang memasuki masa transisi.

Artinya, jika ingin menjadi juara, satu-satunya kunci adalah dengan tetap bermain fokus dan tidak kehilangan konsistensi seperti di dua musim sebelumnya.

110