Tiga sampai empat orang saling menopang. Bersangga pada sebuah kayu pinang yang berdiri tegak.
Wajah mereka sudah berlumur lumpur dan oli. Orang terdekat pun tak lagi mengenali.
Peluh yang basah tak menyurutkan langkah hati mereka untuk sampai ke puncak. Berbagai hadiah seperti televisi, radio, hingga sepeda mini telah menanti di pucuk pinang tertinggi.
Sementara di sisi lain, riuh rendah para penonton menyalak riang. Sebagian menyemangati tim mereka, sebagian lagi hanya tertawa melihat tim bertanding yang kepayahaan.

Panjat pinang kerap diselenggarakan tiap perayaan hari kemerdekaan Indonesia.
Lumuran lumpur dan oli, serta jatuh-bangkit peserta memang menjadi hiburan menarik dalam panjat pinang. Tidak heran, olahraga ini menjadi salah satu aksi yang dinanti pada setiap perayaan kemerdekaan.
Tak ada yang menduga bahwa heroisme para peserta panjat pinang dalam aksi tersebut, justru diilhami oleh hiburan para penjajah saat masa revolusi. Saat itu, panjat pinang menjadi hiburan 'murah' bangsa Belanda di hari ulang tahun Ratu Wilhelmina II.
Bagaimana kisah penyelenggaraan olahraga rakyat ini di masa penjajahan? Berikut hasil ulasan dari INDOSPORT;