Kisah Pahit Panjat Pinang, dari Nasi ke Televisi
Kisah kelabu panjat pinang tertutup oleh semangat hiburan yang memasyarakat. Sejauh ini, panjat pinang terus berkembang dengan berbagai hadiah menggiurkan dari masa ke masa.
Jika pada masa penjajahan , nasi dan bahan sandang menjadi penggoda, saat ini hadiah yang ditawarkan semakin menarik, seperti beragam alat elektronik.
Panjat pinang menuai kisah sukses dari drama satir masyarakat. Berbekal semangat melatih kerjasama, menutup kisah pilu para pribumi yang menjadi hiburan kaum penjajah.
Olahraga ini pun sempat menuai kritik dari kalangan sejarawan. Asep Kambali dari Komunitas Historia Indonesia, salah satunya.

Salah satu lomba panjat pinang menjadi aksi favorit masyarakat Indonesia setiap tahunnya.
Asep mengatakan bahwa panjat pinang kurang relevan dilakukan saat ini. Pasalnya, olahraga ini tak memberikan pelajaran soal nasionalisme dan patriotisme.
"Apa yang menjadi keprihatinan KHI dan mereka para pengusul dihapuskannya panjat pinang dan permainan 17-an lain adalah karena ada gejala memudarnya semangat nasionalisme dan patriotisme di kalangan anak muda yang ditandai rendahnya kesadaran sejarah," tulis Asep dalam blog pribadinya.
Dalam sebuah kesempatan, Asep juga pernah mengkritik keras soal kegiatan panjat pinang dalam perayaan hari kemerdekaan Indonesia.
"Saya punya foto tahun 1920, di sana ada orang-orang Belanda yang ketawa-ketawa melihat panjang pinang," jelas Asep seperti dikutip dari Detik.com.
Meskipun menjadi sebuah kontroversi, nyatanya panjat pinang masih berlangsung hingga hari ini. Bahkan sebagian beranggapan bahwa perayaan hari kemerdekaan tidak ramai jika acara ini tidak diselengarakan.