Kisah Pahit Panjat Pinang, dari Nasi ke Televisi

Kamis, 18 Agustus 2016 14:46 WIB
Editor: Rizky Pratama Putra
 Copyright:
Hiburan Murah Orang Belanda

Wajah kusam berlumur lumpur, dengan celana pendek dan bertelanjang dada menjadi pemandangan umum di medio 1920 hingga 1930an. Mereka saling tindih, menopang satu sama lain untuk meraih pucuk sebuah tonggak tegak.

Tonggak tegak ini merupakan sebuah bongkah kayu pinang. Tingginya mungkin berkisar antara 3-4 meter. Pada pucuknya, telah tersedia bahan pangan seperti celana, baju,nasi dan lauk pauk.

Panjat pinang, demikian orang mengenalnya. Gambaran peristiwa tadi berlangsung saat para penjajah tengah melangsungkan perayaan hari ulang tahun pemimpin mereka, Ratu Wilhelmina II.


Salah satu aksi panjat pinang di kota Makassar pada masa penjajahan Belanda.

Perayaan ini berlangsung setiap tanggal 31 Agustus. Kala itu, panjat pinang menjadi hiburan murah bagi para 'kompeni', namun hadiah yang disediakan merupakan barang mewah bagi pribumi.

Dengan iming-iming hadiah menarik, para penjajah meminta orang-orang pribumi untuk ikut serta. Setengah diancam, mereka pun terpaksa patuh untuk ikut berlaga.


Para pribumi yang berebut hadiah menjadi bahan tertawaan orang-orang Belanda.

Dalam perjalanannya, panjat pinang justru menjadi salah satu olahraga rakyat yang kerap dipertandingkan dalam agenda peringatan hari kemerdekaan. Sama seperti tarik tambang, olahraga ini menjadi salah satu favorit masyarakat, tidak hanya untuk ikut serta tapi juga sebagai penonton setia.

Hari kemerdekaan Indonesia yang jatuh pada tanggal 17 Agustus memang dekat dengan peringatan 'besar' orang Belanda. Hal ini bisa jadi sebuah 'ingatan pendek' bangsa kita yang mencoba keseruan lama dengan sentuhan berbeda hingga hari ini.

309