Pecah bentrok yang melibatkan Jakmania, basis suporter Persija Jakarta saat mereka pulang dari Solo, usai mendukung Macan Kemayoran bertanding melawan Persib Bandung dalam laga lanjutan Torabika Soccer Championship (TSC), Minggu (06/11/16).
Bentrokan terjadi di sekitar jalan Tol Palimanan, tepatnya pada KM 188. Informasi dari kedua belah pihak yang dihimpun INDOSPORT baik dari kepolisian ataupun pihak Jakmania, bentrokan terjadi dengan warga Desa Lukbenda.
Siapa yang memulai bentrok? Kedua belah pihak memiliki versinya masing-masing. Pihak Jakmania seperti diungkap oleh salah seorang sanksi mata di tempat kejadian, Andika Perkasa menyebut bahwa bentrokan pecah karena adanya serangan terlebih dahulu dari warga Lukbenda.
Namun pihak kepolisian yang diwakili oleh Kompol Yana Mulyana, Kapolsek Gempol, Cirebon menyebut bahwa insiden berdarah yang menewaskan anggota Jakmania Kalimalang, Harun Al Rasyid Lestaluhu disebabkan oleh pihak Jakmania.
Siapa yang benar?
Ini bukan mencari kronologis mana yang benar atau mana yang salah. Proses hukum untuk pelaku pengeroyokan memang wajib dilakukan oleh pihak kepolisian. Selain itu, yang lebih penting ialah bagaimana agar insiden berdarah ini tak lagi terulang di masa yang akan datang.
Kritik otokritik memang layak untuk disematkan kepada pihak suporter. Namun alangkah bijaknya kritik otokritik tersebut tidak prematur dan langsung menuduh bahwa semua insiden kekerasan di sepakbola murni semuanya karena kesalahan suporter itu sendiri.
Banyak faktor yang harus dilihat dan dikaji untuk memberikan analisis yang berimbang. Analisis yang tidak hanya menyalahkan pihak suporter, namun juga tidak serta merta menyudutkan pihak kepolisian.
Kajian dari segi sosiologi hingga budaya bisa jadi landasan pengetahuan yang relevan jika ingin menganalisis akar dari permasalahan ini.