(ANALISIS) Suporter Kembali Merenggang Nyawa, Jangan Salahkan Mereka!
Istilah ini berkaitan dengan kajian sosiologis soal Negara Polisi (Polizei Staat). Istilah ini memiliki arti 'Kepentingan umum sebagai yang harus diutamakan'.
Hal inilah yang kemudian menjadikan aparat kepolisian memiliki sikap keras terhadap kumpulan orang dalam jumlah besar, seperti suporter misalnya.
Bagi aparat kepolisian, barisan suporter akan selalu dicurigai akan mendatangkan gangguan pada kepentinga umum. Aksi represif pun jadi jalan akhir untuk gangguan umum tersebut tidak terjadi.
Namun yang jadi masalah ialah aparat kepolisian acapkali mendramatisir. Ada pola dramatisir menurut Ubedilah untuk menanggulangi kumpulan massa seperti suporter.
"Pihak keamanan tidak perlu mendramatisir hal ini. Jangan membuat seolah-olah Bandung dan Jakarta akan selalu ciptakan chaos. Bentuk-bentuk vandal yang terjadi antara The Jak dengan Bobotoh sebenarnya juga karena faktor ketidakberhasilan para aparat untuk meredakan konflik ini," kata Ubedilah.
Ditambahkan Ubedilah pemeritah dan pejabat tidak perlu sampai harus turunkan Badan Intelejen Negara serta tentara untuk ciptakan kondisi kondusif, cuma dengan pendekatan yang lebih rasional, "Perlu adanya ketegasan dari aparat untuk ciptakan aturan yang jelas yang merangkul kedua pihak," kata Ubedilah.