(ANALISIS) Suporter Kembali Merenggang Nyawa, Jangan Salahkan Mereka!

Senin, 7 November 2016 14:37 WIB
Editor:
© Prima Pribadi/INDOSPORT
Merchandise PSS Sleman yang dijual di CSS, salah satu unit usaha dari Brigata Curva Sud. Copyright: © Prima Pribadi/INDOSPORT
Merchandise PSS Sleman yang dijual di CSS, salah satu unit usaha dari Brigata Curva Sud.
Suporter tak melulu sama dengan rusuh

Stigma negatif yang melekat pada suporter Indonesia tak terelakkan. Mereka selalu dikonotasikan sebagai kumpulan muda-muda yang selalu berakhir dengan bentrok. Padahal stigma negatif ini yang membuat permasalahan tak jua terselesaikan. 

Kritik pun juga harus dilontarkan para suporter itu sendiri. Sudah saatnya tidak lagi melulu jadi hal negatif. Aksi-aksi kreatif dan inovatif layak untuk mereka tonjolkan di tengah masyarakat. 

Sejumlah basis suporter Indonesia memang sudah melakukan hal tersebut. Ambil contoh basis suporter PSS Sleman, Brigata Curva Sud (BCS). 

Kelompok ultras, Brigata Curva Sud (BCS) sudah sangat dikenal sebagai basis kelompok suporter Indonesia yang kreatif. Aksi-aksi koreo kreatif selalu disajikan BCS saat PSS Sleman bertanding. 

Namun bukan hanya soal aksi koreo kreatif yang mereka lakukan. Lebih dari itu, BCS lakukan tindakan nyata yang kreatif dan mandiri untuk mereka sendiri dan klub kebanggaan mereka, PSS Sleman. 

“Ini kami dirikan CURVA SUD SHOP (CSS) pada 20 Februari 2011 dengan tujuan untuk membantu klub kesayangan kami. Karena kami tahu klub butuh dana, sedangkan untuk menarik sponsor cukup susah untuk tim kecil seperti PSS, tidak mungkin hanya mengandalkan dari penjualan tiket pertandingan,” kata Reza, salah seorang pengelola CSS.

Tidak hanya BCS, masih banyak lagi aksi-aksi nyata untuk membuat suporter jadi lebih merdeka secara karya, ekonomi, dan sikap. Hal ini yang membuat basis suporter memiliki tempat tersendiri di masyarakat yang memang tak kenal sepakbola dan memberikan stigma negatif kepada suporter. 

697