(ANALISIS) Suporter Kembali Merenggang Nyawa, Jangan Salahkan Mereka!

Senin, 7 November 2016 14:37 WIB
Editor:
 Copyright:
Kajian kultur hingga pola antar suporter

Ada sejumlah kajian sosilogi, antropologi, hingga budaya yang kadang alpa untuk dijadikan landasan. Sosilog dari Universitas Negeri Jakarta (UNJ), Ubedilah Badrun mengatakan jika kajiannya untuk kasus rivalitas Jakmania dengan Bobotoh maka harus dilihat kajian kultur masyarakat dari keduanya. 

Dipandang dari segi kultur masyarakat Jakarta dan Bandung, Ubedilah melihat tidak ditemukannya kultur kekerasan antar kedua masyarakat tersebut. Artinya konflik antara The Jak dan Bobotoh bukan berdasar kultur masyarakat namun lebih kepada tidak mampunya aparat terkait untuk mengatur dengan jelas potensi-potensi gesekan yang tercipta. 

"Kedua etnis ini saling berdekatan begitu menyatu dengan budaya-budaya leluhur antar kedua masyarakat ini. Kita bisa melihat bagaimana akulturasi tercipta dengan baik antar masyarakat Betawi dengan Sunda di daerah-daerah penyangga Jakarta seperti Bekasi, Bogor serta Banten. Mereka hidup dengan harmonis. Mereka begitu menyatu," kata Ubedilah. 

Pernyataan dari Ubedilah sejalan dengan apa dikemukakan oleh Franklin Poer. Poer menyebut jika ditelisik, akar permasalahan dari bentrok antar suporter bisa pecah akibat hal yang lebih sensitif seperti soal faktor agama seperti permusuhan antara fans Rangers dengan Celtic di Skotlandia. 

Selain soal agama, Poer juga menyebut bahwa bentrok antar suporter pecah juga karena kegelisahan di kalangan akar rumput, utamanya basis suporter karena adanya jurang pemisah ekonomi antara si miskin dan si kaya. 

Franklin Poer menuliskan dalam bukunya yang berjudul 'Memahami Dunia Lewat Sepakbola' menuliskan, 

"Garong-garong ini begitu berakar dalam persepakbolaan Brasil sampai semua orang menyebutnya Cartolas (kaum topi tinggi). Akibatnya ketika ada tokoh atau direksi klub Brasil yang berpihak pada Cartolas, maka gesekan antar fans pun dengan mudah tercipta di dalam stadion-stadion Brasil,". 

Selain soal perbedaan kultur, Ubedilah juga menyebut jika bentrok sudah terjadi harus ditilik juga soal pola kekerasan yang terjadi. 

Dari kajian sosilogis bertemunya dua kelompok massa dalam satu tempat memang sangat memungkinkan untuk terjadinya potensi konflik antar keduanya. Melihat dari konflik antar The Jak dengan Bobotoh, Ubedilah melihat kekerasan yang dilakukan antar kedua pendukung ini sebenarnya terjadi karena adanya 1 pola yang terbentuk,

"Ada 1 pola kekerasan yang dilakukan oleh para pelaku ini. Mereka yang kemudian tertangkap karena melakukan tindakan vandalis terjebak dalam satu posisi kekerasan," kata Ubedilah. 

Menariknya menurut Ubedilah, mereka ini terjebak dalam satu pola kekerasan yang dikonstruksikan oleh pemerintah. Seperti bagaimana pola berlebihan dari para aparat menyambut final Piala Presiden beberapa waktu lalu dengan aksi pamer kekuatan senjata dan lain sebagainya. 

697