Siapa yang menyangka, latihan yang tadinya berjalan biasa saja kemudian berubah menjadi petaka bagi pemain andalan Timnas, Irfan Haarys Bachdim. Hari itu seolah menjadi pagi paling kelabu dalam hidup striker 28 tahun itu. Terlibat duel dan berebut bola, Irfan kemudian mengalami benturan dengan bek Timnas, Hansamu Yama Pranata.
“Dia (Irfan) mengalami cedera karena tadi sempat ditekel dan dia kurang beruntung terkena engkel kaki kirinya. Sejauh ini kita belum tahun keadaannya,” ujar Riedl usai memimpin latihan pagi itu.
Hasil medical check yang diperoleh ternyata di luar dugaan. Irfan dikabarkan mengalami retak tulang fibula di kaki kirinya. Ayah dua anak itu diharuskan beristirahat total selama dua bulan. Begitu pulang dari rumah sakit, ia langsung secepat kilat berlari ke dalam hotel meskipun dengan hanya menggunakan satu kaki.
Air mata sang pemain pun tak kuasa ditahan, ia kemudian menangis sebelum masuk ke dalam lift menuju kamar hotel. “Mimpi saya telah hancur” kira-kita seperti itulah perasaan Irfan Bachdim.
Pasca kejadian tersebut, keadaan pun menjadi ambigu. Berbagai tanggapan pun mengalir, baik untuk Irfan maupun Hansamu. Hal tersebut seolah bola salju yang bergerak tanpa arah dan tujuan yang jelas. Ucapan simpati hingga kata-kata yang pedas di telinga pun diterima, dalam hal ini Hansamu.
Akan tetapi sikap berbeda justru ditunjukkan kedua pemain tersebut, bersama kapten Timnas, Boaz Solossa. Mereka dengan besar hati menunjukkan sikap profesional sebagai pesepakbola, sekaligus memberikan contoh yang layak jadi panutan pecinta sepakbola maupun masyarakat pada umumnya.
Lantas apa yang ditunjukkan ketiga pemain Timnas tersebut. Berikut INDOSPORT membahasnya untuk pembaca setia: