Cerita Bachdim, Boaz, dan Hansamu Dalam Memaknai Arti Pesepakbola Profesional

Selasa, 22 November 2016 11:40 WIB
Editor: Arief Rahman Hakim
 Copyright:
Hansamu Tunjukkan Sikap Profesional dan Gentleman

Cedera yang dialami Irfan Bachdim usai berbenturan dengan Hansamu Yama dan memaksanya absen di Piala AFF kali ini, langsung menjadi pokok perhatian pecinta sepakbola Tanah Air.

Berbagai ucapan simpati pun mengalir deras untuk Irfan yang pada empat laga uji coba Timnas tampil memukau. Tak hanya itu, hujatan pun datang bak banjir bandang. Hal ini tentu saja ditujukan pada sosok Hansamu Yama.

Bek Timnas itu dianggap sebagai biang keladi cederanya Irfan. Hujatan di media sosial seperti wabah atau virus yang sangat cepat menyebar dan memojokkan Hansamu Yama. Mungkin bagi sebagian orang, adalah hal yang wajar mengingat cedera yang dialami Irfan hanya dua hari jelang keberangkatan Timnas ke Piala AFF.

Akan tetapi jika mengaca dari kacamata sepakbola, apa yang dilakukan Hansamu kala berduel dengan Irfan Bachdim bukan merupakan suatu kesalahan. Sebagai seorang pemain belakang, tentu saja tugasnya adalah mengawal setiap lawan yang masuk ke pertahanan Timnas.

Tapi kenapa harus di sesi latihan bukan di pertandingan sungguhan? Ini mungkin yang dilontarkan sebagian orang. Jika saja Hansamu melakukan latihan dengan setengah hati dan tidak menjalankan instruksi pelatih, tentu saja ia akan mendapatkan teguran. Dan hal terburuknya adalah ia mungkin akan kehilangan kepercayaan dari pelatih Timnas.

Terlepas dari kejadian yang kemudian membuat Irfan cedera tanpa diketahui alasan pasti apakah ditekel atau salah mendarat, Hansamu telah menunjukkan pada setiap orang, bagaimana bersikap profesional dan dedikasi terhadap apa yang menjadi tanggung jawabnya.

Di sisi lain, Hansamu juga menunjukkan tentang bersikap dewasa dan sebagai laki-laki sejati. Pemain Barito Putera tersebut juga sudah mengungkapkan penyesalannya dan mau meminta maaf. Sebuah sikap yang sangat patut dan layak ditiru.

“Ini musibah, tadinya saya mau rebut bola tapi enggak taunya sampai separah itu. Saya benar-benar tidak ada niat untuk mencederainya, saya menyesal juga. Saya sudah minta maaf dan dia (Irfan) bilang tidak apa-apa,” sesal Hansamu.

Apa yang dilakukan Hansamu sekilas membuat kita teringat akan kutipan dari salah satu legenda sepakbola dunia asal Brasil, Pelle. Kalimat terakhir pria 76 tahun itu menunjukkan bahwa sepakbola tidak hanya tentang kemenangan tetapi juga mengajarkan seseorang untuk menjadi lelaki sejati.

“Setiap anak yang bermain sepakbola di dunia ini, selalu ingin seperti Pele. Saya memiliki tanggung jawab besar untuk memperlihatkan pada mereka, tidak hanya bagaimana menjadi pemain bola tetapi juga bagaimana menjadi seorang pria”.

1.3K