Cerita Bachdim, Boaz, dan Hansamu Dalam Memaknai Arti Pesepakbola Profesional
Sebelum berangkat ke Piala AFF di Filipina, Kamis (17/11/16) lalu ada sebuah momen yang sangat berkesan. Dari video yang diunggah akun Twitter PSSI, terlihat para penggawa Timnas sedang berbicara. Dalam kesempatan tersebut juga hadir, Irfan Bachdim yang harus absen ke Piala AFF.
Suara dari video tersebut memang tidak terlalu jelas, namun caption yang disertakan sudah menunjukkan bahwa semua pemain bertekad untuk memberikan yang terbaik di kejuaraan kali ini.
“Irfan meminta maaf kepada teman-teman karena tidak bisa bersama tim. Ia kemudian memotivasi teman-teman untuk memberikan yang terbaik bagi tim,” ujar pelatih kiper Timnas, Gatot Prasetyo.
“Sebaliknya, Boaz membesarkan hati Irfan supaya tidak larut dalam kesedihan, serta mendoakan agar ia itu cepat pulih untuk kembali bergabung membela Timnas. Momen itu sangat mengharukan dan dilakukan secara spontan oleh para pemain,” sambung coach Gatot.
Yang menarik di sini adalah munculnya sosok Boaz Solossa. Sebagai kapten Timnas, tentu kehadirannya seolah menjadi perantara antar pemain. Sebagai pemain paling senior ia tentu akan menjadi panutan rekan-rekannya.
Sikap yang ditunjukan Boaz Solossa untuk Irfan seolah menunjukkan bahwa apa pun yang terjadi dalam hidup, kita harus bangkit dan terus berusaha menggapai mimpi. Bukan tanpa alasan, striker Persipura Jayapura itu melakukan hal tersebut.
Pasalnya ia juga pernah mengalami hal serupa, tatkala pada 2007 tak bisa bermain di Piala Asia lantaran cedera parah yang dialaminya saat laga uji coba melawan Hong Kong di Stadion Utama Gelora Bung Karno (SUGBK).
Tapi, kegagalan tampil pada ajang terbesar di Asia tidak membuat Boaz patah semangat. Ia terus berjuang sembuh dan memandang positif musibah yang dialami.
“Saya menyadari cedera tersebut merupakan teguran dari Tuhan. Dia (Tuhan) ingin saya menjadi pribadi yang lebih baik,” ujar Boaz saat diwawancarai oleh tabloid BOLA.
Peran Boaz dalam membesarkan hati Irfan tentu tak bisa dianggap sebelah mata. Pria asal Papua tersebut itu mengajarkan Irfan Bachdim untuk tetap menjadi pesepakbola tangguh meski mimpi di depan mata sempat hancur.
Sebelumnya, saat ramai pemberitaan dan hujatan kepada Hansamu terkait cederanya Irfan Bachdim, kapten Timnas, Boaz Solossa, terlihat sangat tidak senang. Ia memutuskan untuk tidak berbicara kepada media dan sebaliknya tetap menjaga keharmonisan dalam Skuat Garuda.
Sikap Boaz ini menunjukkan bahwa ia tidak bertindak sebagai seorang pemimpin tetapi sebagi seoarang leader, di mana ia tidak ingin rekan-rekannya berjalan sendiri, namun mendorong mereka untuk melakukan suatu perubahan dan menggapai mimpi bersama.