Peran MH Thamrin dan Belajar dari Cermin Berlusconi dalam Politik Sepakbola
Sebuah pertemuan kecil di sebuah hotel di Jalan Kramat 17, Jakarta Pusat menjadi langkah penting, tidak hanya bagi sepakbola namun sejarah Republik Indonesia. Hadir dalam pertemuan ini seorang mantan petinggi di sebuah perusahaan milik Belanda, Soeratin Sosrosoegondo dan Pendiri Voetbalbond Indonesische Jacatra (VIJ), yang kemudian dikenal sebagai Persija Jakarta.
Pertemuan ini lebih banyak membahas soal kemajuan sepakbola Indonesia. Namun, aroma politik tersibak kala misi utama dari pertemuan ini merupakan follow up dari agenda Sumpah Pemuda 1928.
Pertemuaan ini kemudian terus dilakukan Soeratin kepada perwakilan klub sepakbola di beberapa wilayah di Indonesia. Hasilnya, 2 tahun kemudian perwakilan dari Jakarta, Bandung, Yogyakarta, Solo, Magelang, dan Surabaya.
Gerakan Sumpah Pemuda 1928 mengalir dalam perlawanan para pemuda Indonesia lewat sepakbola.Mereka sepakat untuk mendirikan Persatoean Sepakraga Seloeroeh Indonesia (PSSI). Hal pertama yang dilakukan oleh PSSI saat itu adalah melawan semua kebijakan Belanda di dunia sepakbola.
Belanda yang kala itu menggunakan Nederland Indische Voetbal Bond (NIVB) membuat sejumlah aturan diskriminatif terhadap para bumiputera dalam sepakbola. Para klub milik para pribumi dilarang ikut berkompetisi dengan tim milik para meneer Belanda.
Jangankan berkompetisi, saat itu para pemain lokal pun dilarang untuk bermain di lapangan sepakbola milik klub Belanda. PSSI kemudian memotong diskriminasi ini melalui sebuah anjuran bagi para anggotanya untuk menggelar kompetisi sendiri.
Sejumlah pemuda bumiputera tercatat masuk dalam skuat Hindia-Belanda di Piala Dunia 1938.Mimpi politik Soeratin pun menjadi kenyataan saat NIVB mengajak PSSI 'berdamai', mengingat kekuatan PSSI yang membesar. Pada tahun 1936 NIVB kemudian berubah nama menjadi Nederland Indische Voetbal Unie (NIVU).
Proyek pertama dengan PSSI yang cukup besar adalah mendatangkan klub asal Austria, Winner Sport Club, untuk melangsungkan pertandingan uji coba. Lalu di tahun 1938 pula NIVU mengirimkan 9 pemain asal pribumi dalam tim yang berangkat menuju Piala Dunia 1938.
Mimpi politik Soeratin pun menjadi nyata. Perlawanan atas diskriminasi diterjemahkan dalam 9 pemain pribumi yang diakui 'sejajar' dengan para pemain Belanda.