Peran MH Thamrin dan Belajar dari Cermin Berlusconi dalam Politik Sepakbola
Kebakaran di Gang Bunder, Passer Baroe, pada tahun 1928, benih perlawanan lewat sepakbola di Jakarta bersemai. Para pemuda yang ingin melakukan aksi sosial lewat sepakbola marah akibat tidak diberikan izin untuk menggunakan lapangan Deca Park, milik klub Hercules yang dimiliki Belanda.
Atas dasar kekecewaan dan perlawanan inilah muncul Voetbalbond Indonesische Jacatra (VIJ) yang kelak akan menjelma menjadi Persija Jakarta. Pendirian VIJ tak lepas dari ide Soeri dan A Alie yang menjadi dua tokoh pengagas Macan Kemayoran.
Persija Jakarta menjadi salah satu alat perlawanan pemuda ibu kota terhadap Belanda.Dalam perkembangannya, VIJ kemudian tumbuh berkat beberapa tokoh politik yang ikut mengintervensi. Sebut saja MH Thamrin yang memberikan 'modal' senilai 2000 gulden untuk merenovasi lapangan di kawasan Pulo Piun, Petojo.
Lapangan ini masih berdiri dan dikenal dengan nama Lapangan VIJ, Petojo. Lapangan ini kemudian menjadi saksi bagaimana perlawanan anak-anak pribumi VIJ melawan para pemain Belanda yang mendiskriminasi mereka di hari-hari sebelumnya.
Tak berhenti sampai di MH Thamrin. Keterlibatan para politisi dalam perkembangan VIJ di era penjajahan pun dimulai.
Kondisi Lapangan VIJ Petojo yang menjadi sejarah perjalanan Persija Jakarta.Sebut saja nama Dr. Kusumah Atmadja, yang pernah menjadi ketua Mahkamah Agung pertama Indonesia pernah menjadi Ketua Umum Persija Jakarta pada tahun 1931 dan 1934. Lalu ada anggota Volksraad (Dewan Rakyat) Mr. Hardi yang sempat bergabung dalam kepengurusan Macan Kemayoran.
Bahkan, Pahlawan Nasional, Dr. Moewardi juga tercatat sempat menjadi pemimpin Persija Jakarta pada tahun 1934 dan 1938. Nama besar tersebut bisa bergabung untuk menjaga Persija Jakarta dalam perlawanan pribumi terhadap Belanda ini berkat racun kuat dari MH Thamrin.