In Depth Sports

Peran MH Thamrin dan Belajar dari Cermin Berlusconi dalam Politik Sepakbola

Selasa, 29 November 2016 09:09 WIB
Editor: Rizky Pratama Putra
 Copyright:
Euforia Sepakbola Sebagai Daya Pikat Politik

Survei yang diadakan oleh Repucom, sebuah lembaga yang fokus dalam perkembangan olahraga, pada tahun 2014, menyebutkan bahwa Indonesia masuk 3 besar sebagai penggemar sepakbola. Riset Repucom menyebutkan, Indonesia memiliki 77 persen penduduk yang menyukai sepakbola sebagai olahraga.

Hasil ini menempatkan Indonesia sebagai bangsa nomor 2 di dunia yang menggemari sepakbola. Indonesia hanya kalah dari Nigeria, yang menurut hasil survei Repucom, 83 persen penduduknya menggilai sepakbola.

Catatan ini merupakan nilai yang cukup untuk menjadikan sepakbola berpotensi menciptakan euforia bagi masyarakat. Bahkan era Orde Baru sempat menyempalkan militer sebagai Ketua Umum PSSI.

Soeharto telah melihat bagaimana sepakbola mampu mengumpulkan puluhan ribu massa dalam satu waktu. Histeria para penggila sepakbola ini juga berpotensi sebagai pengumpul suara dalam politik praktis.

Indonesia dikenal sebagai salah satu negara dengan jumlah pendukung sepakbola terbesar di dunia.

Terjemahan ini kemudian memasuki musim semi saat era reformasi. Pilkada langsung yang tercipta berkat arus reformasi menuntut para calon Kepala Daerah untuk kreatif mengumpulkan suara mereka.

Sepakbola sebagai segara besar suara tak lepas dari sasaran bidik politik. Kita masih ingat bagaimana dengan segala keterbatasan, Sutiyoso mampu mengambil hati para The Jakmania saat memenangi Pilkada DKI Jakarta selama dua periode di tahun 1997-2007.

Angin ini kemudian menjadi pilihan para penerusnya, yang ingin maju dalam Pilkada untuk mendekati basis pendukung Persija sebagai ritual khusus. Bahkan, 3 pasangan Cagub DKI Jakarta saat ini yang tengah mengikuti Pilkada 2017, memiliki cara sendiri untuk berusaha mendekati para penggila sepakbola.

Kita juga mengenal betul politik Ridwan Kamil dengan sepakbola lewat Persib Bandung. Kang Emil, sapaan akrabnya menjadi salah satu sosok yang mencoba mendekati masyarakat Bandung dengan membaur bersama para Bobotoh.

Ridwan Kamil dikenal sebagai salah satu Wali Kota yang dekat dengan sepakbola.

Bagi masyarakat Bandung, para pemimpinnya memang seperti diwajibkan memiliki kedekatan emosional dengan Maung Bandung. Sebelum era Kang Emil, Persib memiliki hubungan kental dengan Dada Rosada yang memimpin Bandung selama 2 periode di tahun 2003-2013.

Jauh ke barat Indonesia, saat ini masyarakat Banda Aceh juga bersiap dalam hajatan Pilkada. Persiraja Banda Aceh yang menjadi klub kebanggan wilayah tersebut pun ikut menjadi primadona untuk digoda para calon.

Dua pasangan yang tengah berkontestasi, dikabarkan mulai melirik Persiraja sebagai polesan mereka. Kedua pasangan ini kerap menyaksikan laga Persiraja yang tengah tampil di Indonesia Soccer Championship (ISC) B 2016.

Bahkan, ada pula yang mencoba memberikan pencitraan lebih melalui pemberian bonus kepada para pemain. Tidak lain, hal ini diberikan untuk merayu para penggila sepakbola di kota yang dikenal dengan Serambi Mekkah tersebut untuk memberikan dukungan politik di bilik suara.

483