Peran MH Thamrin dan Belajar dari Cermin Berlusconi dalam Politik Sepakbola
"Madju Terus!
Sedjak djaman V.I.J sampai mendjadi PERSIDJA ini. Selama 30 tahun tentu perdjoangan Saudara-Saudara penuh dengan duka dan pengorbanan, disamping adanja suka dan kemadjuan-kemadjuan jang ditjapai.
Sjukurlah, bahwa pengorbanan perasaan jang banjak Saudara-Saudara didjaman pendjajahan dahulu sudah habis sedjak 17 Agustus 1945.
Djika mula-mula Saudara-Saudar harus puas denhan lapangan di Pulo Piun, maka sekarang Saudara-Saudara sudah mempunjai lapangan di Merdeka Timur.
Maka pesanku sekarang, tiada lain, ialah supaja Saudara-Saudara lebih giat lagi berdjoang, menjusun dan menjempurnakan organisasi Saudara-Saudara, dengan pedoman segala usahan harus untuk Kebesaran Nusa, Bangsa dan Negara Republik Indonesia, jang Saudara-Saudara turut memproklamirkan pada tanggal 17 Agustus 1945 itu!
Presiden Republik Indonesia
Sukarno"

Demikian petikan sebuah surat yang dikirimkan Sukarno, sang Proklamator Kemerdekaan Republik Indonesia (RI) saat Persija Jakarta berulang tahun yang ke-30. Surat yang dikirimkan Sukarno pada tahun 1958, merupakan bagian dari pengakuan politik sepakbola cukup berpengaruh dalam perkembangan RI saat itu.
Sukarno bahkan menganggap bahwa Persija Jakarta merupakan salah satu organisasi pergerakan nasional bangsa. Hal ini pun membuat Sukarno menghadiahkan Lapangan Menteng, saat mengubah Lapangan Ikada yang biasa digunakan Persija menjadi Monumen Nasional (Monas) pada tahun 1961.