Hari HAM, Noda-noda Hitam Pelanggaran Hak Asasi Manusia di Ranah Sepakbola
Indonesia, negara berpenduduk 260 juta orang lebih yang berasal dari latar belakang dan budaya berbeda, yang disatukan dengan Bhineka Tunggal Ika. Sebagian besar masyarakatnya juga fanatik dengan sepakbola, terutamanya jika Timnas bermain.
Akan tetapi masalah juga tak pernah lepas dan menjadi kisah rumit di sepakbola Indonesia. Mulai dari pengaturan skor, pelanggaran nilai-nilai fair play, hingga pelanggaran HAM yang memfokuskan masalah akan penunggakan gaji.
Miris jika melihat klub-klub semenjana Tanah Air memiliki pemain asing atau lokal, yang pada akhirnya tak sanggup membayar mereka karena kesulitan finansial, terutamanya ketika sanksi dijatuhkan FIFA kepada induk tertinggi sepakbola Indonesia, PSSI pada 2015.
Seluruh kompetisi vakum, tak ada aktivitas sepakbola, hingga para pemain yang menggantungkan hidup mereka di olahraga mengolah Si Kulit Bundar, melakukan berbagai cara agar perut dapat terisi atau untuk menafkahi sanak keluarga.
Sedih, terutamanya ketika tahu ada pemain yang sampai mengemis di pinggir jalan lantaran membutuhkan uang. Sisanya? ada yang membuka usaha kecil, dan bermain tarkam, meski tahu jika cedera maka risiko ditanggung sendiri.
Lantas, di mana posisi pelanggaran HAM itu? Jelas, pemain sepakbola atau pesepakbola profesional, merupakan suatu profesi dan sepakbola jadi tempat mencari nafkah, dibayar seperti halnya karyawan kantor.
Jika haknya mendapatkan gaji diulur-ulur atau ditunggak berbulan-bulan, tentu ada pelanggaran HAM di situ. Parahnya lagi, pelanggaran HAM itu memunculkan kisah pilu akan meninggalnya beberapa pemain akibat sakit, namun tak mampu membayar biaya berobat.
Hal ini terjadi jauh sebelum sanksi FIFA turun, dan PSSI ceroboh tidak mengawasi finansial klub-klub kecil, hingga blunder terjadi dan memunculkan korban jiwa. Salah satu korban itu, adalah Salomon Begondo.

Salomon Begondo
Ia sempat menjadi bomber PSIS Semarang dan Persipro Probolinggo, akan tetapi ketika bermain untuk Persipro bersama dengan Camara dan Sylla Mbamba, Salomon sampai harus mengemis di jalan protokol Probolinggo karena gaji mereka tidak dibayar klub.
Hal itu terjadi pada 2012 dan Salomon kemudian meninggal dunia di rumah sakit pada daerah Bumi Serpong Damai (BSD). Ia dirawat lantaran kondisinya sudah sangat buruk, muntah-muntah akibat tidak memiliki uang sebelumnya untuk mendapat perawatan untuk penyakitnya itu.
"Namun karena tidak memiliki uang, Salomon tidak dirawat di rumah sakit dan memilih pulang," ucap Staf Legal APPI (Asosiasi Pesepakbola Profesional Indonesia) kala itu, Merdiansyah.
"Menurut keterangan yang APPI terima, Salomon meninggal saat menderita sakit dan tidak mampu membayar biaya berobat," kicau Twitter APPI.
Kisah Salomon bukan satu-satunya, karena ada dua pemain asing lainnya yang meninggal kala bermain untuk klub sepakbola Indonesia.
Mereka adalah Sekou Camara (Pelita Bandung Raya) yang meninggal pada 28 Juli 2013, dan pemain Persis Solo, Diego Mendieta, yang meninggal pada 4 Desember 2012.
Noda hitam dan membekas mencoreng sepakbola Tanah Air akan kematian mereka, dan klub-klub saat ini sudah seharusnya mempertimbangkan segi finansial dalam menggaji pemain, terutamanya pemain asing dan juga klub kecil.
Jika masih ingin eksis di kancah sepakbola nasional, keuangan harus dijadikan prioritas dengan mencari sponsor, guna menjaga stabilitas keuangan dan tidak melakukan pelanggaran HAM, dengan menunggak gaji pemain.