Hari HAM, Noda-noda Hitam Pelanggaran Hak Asasi Manusia di Ranah Sepakbola

Sabtu, 10 Desember 2016 15:45 WIB
Editor: Arief Rahman Hakim
 Copyright:
Dunia

Pelanggaran HAM tak melulu dari segi finansial seperti penunggakan gaji yang marak terjadi di Indonesia, karena ada artikel lainnya dalam Magna Carta Internasional Hari HAM, yang juga mengatur diskriminasi rasial.

Rasis kerap terjadi di Eropa, seperti halnya baru-baru ini di Derby della Capitale antara Lazio dan Roma. 

Pemain Lazio yang berasal dari kawasan Balkan, Senad Lulic, sama sekali tidak ragu dan enggan meminta maaf, kala menyebutkan ucapan rasis kepada bek Roma asal Jerman berkulit hitam, Antonio Rudiger.

Rasis bak sulit dihentikan di Benua Biru, meski setiap harinya diperangi oleh pesepakbola atau suporter biasa. Rasis juga masuk pelanggaran HAM, karena korban rasis dianggap tak memiliki hak sama dalam mendapatkan perlakuan yang sama.

Juventus yang merupakan klub besar dunia dan Eropa, juga pernah menunjukkan perayaan mereka kepada Hari HAM dengan fokus artikel 7, yang berhubungan dengan diskriminasi.

"Semua setara sebelum hukum dan diakui tanpa diskriminasi dalam perlindungan hukum yang setara. Semua diakui dalam perlindungan setara terhadap segala diskriminasi yang melanggar deklarasi ini dan terhadap segala hal yang mengarah kepada diskriminasi semacam itu."

Bahkan, FIFA selaku federasi tertinggi sepakbola dunia tak luput dari sorotan terkait penyelenggaraan Piala Dunia 2018 di Rusia, dan Piala Dunia 2022 di Qatar. FIFA dinilai gagal menegakkan HAM, karena membiarkan pesta sepakbola nantinya digelar di Rusia dan Qatar.

Dosen Hak Asasi Manusia dan Hubungan Internasional, John Ruggie, dengan lantang berkata bahwa FIFA sudah seharusnya tidak banyak bekerja di balik meja dan mengawali perubahan budaya, terutamanya dalam menjaga HAM.

"Perubahan fondasi FIFA sekarang untuk tidak lagi menulis di secarik kertas dan menambah fungsi-fungsi administratif, yang dibutuhkan adalah perubahan budaya," ucap Ruggie.

Qatar dan Rusia tempat Piala Dunia akan berlangsung, masih memberlakukan budaya eksploitasi kepada pekerja imigran dengan cara yang berlebihan. Hal itu merupakan pelanggaran HAM, karena imigran itu juga manusia yang berhak mendapatkan hak yang sama.

Budaya di kedua negara itu memang tidak langsung mengenai pelanggaran HAM kepada pelaku sepakbola, namun, dampaknya sangat fatal jika FIFA - yang sudah jadi panutan sepakbola dunia - membiarkan pelanggaran HAM itu terjadi, di tengah pesta sepakbola dunia, di mana banyak orang dari tiap negara berkunjung ke Qatar dan Rusia.

146