Matthias Sindelar dianggap sebagai pesepakbola hebat yang pernah hidup dan meramaikan daratan Eropa di medio 1920-an hingga 1930-an. Sebagai bentuk penghormatan atas karier cemerlangnya bagi Tim Nasional Austria, International Federation of Football History and Statistics (IFFHS) memberikan penghargaan bagi Sindelar sebagai pesepakbola terbaik Austria abad 20.
Mungkin masih sedikit yang mengetahui kiprahnya di lapangan hijau. Tapi dunia mengakui jika Sindelar adalah salah satu yang terbaik, salah satunya adalah Alfred Polgar, jurnalis sekaligus kritikus teater terkenal Austria.
Dalam tulisannya yang berjudul In Bed with Maradona, Polgar mendeskripsikan Sindelar dengan gaya puitis lagi melankolis.
"In a way he had brains in his legs and many remarkable and unexpected things occurred to them while they were running. Sindelar’s shot hit the back of the net like the perfect punch-line, the ending that made it possible to understand and appreciate the perfect composition of the story, the crowning of which it represented."
"Pikiran dan kakinya menghasilkan sesuatu yang tidak bisa diduga, semuanya terjadi ketika mereka (kesebelasan Austria) berlari. Tendangan Sindelar getarkan jala gawang dengan begitu sempurnanya, yang menunjukkan kesempurnaan sebuah cerita, untuk dia yang dibelanya."
Tapi sayang, kegemilangan Sindelar 'senyap' usai kematiannya yang masih menjadi misteri hingga kini. Teori terbaik menyebutkan jika ia dan pacarnya dibunuh oleh Nazi yang marah karena Sindelar enggan membela Tim Nasional Jerman, di mana kala itu Austria dan Jerman memang baru melakukan penggabungan kekuasaan di bawah komando kekaisaran Wangsa Habsburg.
Memperingati kematian Sindelar, INDOSPORT menyajikan informasi mengenai kehidupan pemain yang mendapat julukan Si Tukang Koran, Si Anti-Fasis, dan The Loyalist ini.