On This Day: Kematian Sindelar Si Anti-Fasis yang Gunakan Sepakbola Melawan NAZI
Matthias Sindelar adalah orang asli Austria. Ayah dan ibunya dulu pernah tinggal di wilayah Moravia sebelum akhirnya pindah ke kota yang lebih besar, di mana peluang kerja juga lebih besar, yakni Wina. Maklum, banyak orang yang berbondong ke kota-kota besar karena kondisi keamanan jelang Piala Dunia I.
Sindelar, bersama orang tuanya yang pekerja kasar, akhirnya tinggal di kawasan industri. Ayahnya sendiri merupakan tukang batu, sedang ibunya pekerja serabutan. Ada yang bilang kalau sang ibu dan ayah bekerja di pabrik, ada yang bilang ibunya bekerja sebagai pembuat roti, sedangkan ayahnya bekerja di pabrik besi.
Entah mana yang benar, yang jelas Sindelar muda sudah mengenal kerasnya hidup, sebagaimana ia mengenal sepakbola untuk pertama kali. Di jalan-jalan becek dan lembap di Wina, Sindelar mengasah bakat sepakbolanya.

Sindelar mendapat julukan The Paper Man karena kegesitannya.
Saat masih kecil, Sindelar kerap kali bermain dengan menggunakan bola yang terbuat dari kain yang digumpal sehingga berbentuk seperti bola. Tapi hal itu tidak menutup peluangnya untuk dipanggil klub sepakbola.
Di usia 15 tahun, ia bergabung dengan klub lokal, Hertha, persis setahun setelah ayahnya tewas di garda terdepan Italia pada Perang Dunia I. Tak lama, ia pindah ke Vienna Amateurs, yang merupakan cikal bakal FK Austria Vienna, klub yang saat itu menjadi idola bagi kaum Yahudi di Austria.
Saking cintanya dengan FK Austria Vienna, ada pengakuan dari keturunan Yahudi yang kakek neneknya menjadi saksi hidup perjalanan klub tersebut. Disebutkan jika Sindelar pernah membelikan kafe bagi fans Austria Vienna untuk dijadikan tempat berkumpul ketika itu.
Berawal dari keluarga yang sederhana dan pekerja keras, Sindelar menjadi publik yang dicintai oleh, tidak hanya warga Wina, tapi juga seluruh rakyat Austria.