On This Day: Kematian Sindelar Si Anti-Fasis yang Gunakan Sepakbola Melawan NAZI
Tahun 1938, terjadi momen sejarah yang mungkin tidak akan pernah bisa dilupakan rakyat Austria. Saat itu, terjadi perundingan untuk menyatukan wilayah Austria (dan beberapa negara lainnya) dengan Jerman yang dipimpin oleh rezim Nazi, Adolf Hitler.
Kekuatan militer Nazi saat itu sungguh ditakuti, sehingga Austria yang di tahun 1930-an sepakbola mereka tengah bagus-bagusnya mau tidak mau harus 'menyerah' kepada Jerman. Imbasnya, di tahun 1938, Austria tidak bisa mengikuti Piala Dunia.
Masih di tahun 1938, sebagai simbol atau bentuk seremonial 'bersatunya' Austria dengan Jerman, dibuatlah pertandingan sepakbola -- karena memang sepakbola Austria sedang disegani di seluruh dunia. Laga melawan Jerman itu sekaligus menjadi partai terakhir Austria sebagai negara merdeka saat itu.
3 April 1938, bertempat di Stadion Prater, Wina, berlangsung pertandingan seremonial. Sebegitu seremonialnya hingga pemain Austria seakan membiarkan Jerman menguasai pertandingan selama 69 menit.
Segalanya berubah di sisa 20 menit terakhir. Austria mulai mengeluarkan bentuk permainan sebenarnya. Sindelar dan Karl Sesta memimpin rekan-rekannya dan mencetak dua gol kemenangan bagi timnya sehingga membuat skor akhir menjadi 2-0 bagi kemenangan Austria.
Seharusnya kemenangan ini tak jadi masalah, andai saja Sindelar tak gegabah dengan merayakan kemenangan dengan begitu emosionalnya. Ia merayakan golnya dengan berlari ke arah tribun kehormatan Nazi sembari berkata: "Kalian bisa mengalahkan kami dengan senjata, tapi tak pernah lewat sepakbola, tak pernah saat ada bola di kaki kami!"
Namun demikian, beberapa pihak masih percaya jika Jerman dan Nazi-nya tidak marah mendengar ucapan Sindelar itu, dan justru sebaliknya, mereka ingin 'merekrut' Sindelar ke Timnas Jerman. Buktinya, pelatih Der Panzer, Sepp Herberger, meminta Sindelar bergabung di skuatnya, meski dengan sopan menolaknya.
Betapa terkejutnya mereka mengetahui Sindelar menolak request tersebut. Ia beralasan jika usia sudah tak bisa lagi menopang lututnya yang menua. Padahal, Sindelar memang menyimpan kebencian yang teramat sangat kepada Nazi. Jiwa nasionalisnya tumbuh dan berkembang sejak dini, apalagi di FK Austria Vienna yang dulunya terkenal dengan pendukungnya yang berasal dari mayoritas Yahudi kelas menengah ke atas, Sindelar sudah dianggap sebagai bagian dari mereka.
Secara tidak langsung, apa yang ditunjukkan oleh Sindelar merupakan wujud nyata dari loyalitas serta sikap anti-fasis yang menjadi tagline NAZI. Akibatnya, Sindelar dan kekasihnya, Camila, diamankan oleh polisi rahasia NAZI (Gestapo) untuk kedua kalinya, dan untuk kedua kalinya pula, ia kembali menolak permintaan NAZI dan Jerman.
23 Januari 1939, Matthias Sindelar ditemukan tewas di sebuah apartemen bersama pacarnya, Camila. Hanya saja, kematian tersebut masih menjadi misteri. Ada yag menduga juga mereka keracunan karbon monoksida dari kebocoran pemanas, ada juga yang bilang bunuh diri.
Hingga saat ini, kontroversi seputar kematiannya masih terjaga. Entah mana yang benar, yang jelas, ada satu moral value yang bisa diambil dari perjalanan hidup seorang Matthias Sindelar. Loyalitas, kecintaan, dan perjuangan terhadap apa yang dipercaya dan dicintai harus lah dikedepankan, walau maut taruhannya.
