Bisikan Kebangsaan Para Pemain Muda Indonesia di Luar Negeri
Akademi menjadi salah satu indikator pembinaan pemain muda. Peran penting akademi adalah sebagai wadah bagi para pemuda untuk meningkatkan kapasitasnya.
Akademi bisa menjadi ladang benih bagi calon pemain masa depan. Tidak hanya bagi klub, tapi juga Tim Nasional sebuah negara.
Hal ini diakui oleh Timo Scheunemann, salah satu pelatih yang memiliki kedekatan dengan pembinaan bakat muda di Indonesia. Bahkan, Timo mendorong klub-klub di Indonesia melakukan modernisasi terhadap pola pembinaan mereka.
"Akademi dibilang mahal, padahal penting bagi klub untuk bisa mencari bibit pesepakbola usia dini. Sekarang banyak pelatih yang asal melihat pemain yang penting cepat, bisa melewati banyak pemain, dan mencetak gol," ujar Timo kepada INDOSPORT.
Timo Scheunemann memiliki harapan agar Indonesia lebih peduli terhadap pembangunan akademi sepakbola.
Padahal, Timo menuturkan bahwa klub-klub di Bundesliga menjadikan akademi sebagai salah satu andalan mereka untuk bertahan dari gilanya pasar transfer. Salah satunya adalah VfB Stuttgart yang memiliki pola pembinaan usia muda yang mumpuni.
VfB Stuttgart merupakan tim yang dibiayai penuh oleh sebuah pabrikan otomotif ternama dunia asal Jerman. Akan tetapi, klub ini tidak royal dalam menggelontorkan uang untuk melakukan pembelian pemain.
"Kita lihat VfB Stuttgart yang berkiprah di Bundesliga 2 Jerman. Stuttgart merupakan klub kaya tapi masih memiliki ketergantungan terhadap pemain di akademinya," kisah Timo.

VfB Stuttgart merupakan salah satu tim Jerman yang memiliki akademi sepakbola modern di Eropa.
Klub sekelas Stuttgart memiliki 9 pemandu bakat yang khusus memantau bakat muda. Dari sembilan orang tersebut, hanya 2 orang yang bertugas untuk mencari bakat bagi tim senior mereka.
Sisanya, tentu saja menjadi mata dan telinga bagi para bocah yang memiliki kemampuan di atas rata-rata untuk bergabung di akademi mereka. Hal ini menjadi salah satu tolak ukur payahnya pembinaan usia muda di Indonesia.
Pasalnya, saat ini hanya sedikit klub asal Indonesia yang memiliki akademi sendiri. Tercatat hanya Villa 2000, dan Bina Taruna yang memiliki akademi sepakbola sendiri.
Villa 2000 dan Bina Taruna sendiri merupakan klub yang tergabung di Liga Nusantara, kompetisi kasta kedua di Indonesia. Sementara Bali United baru akan membuka akademi mereka sendiri.
Problem ini menjadi salah satu keringat dingin bagi para pemain muda yang khawatir akan bakat mereka tergerus. Sejumlah pesepakbola usia muda akhirnya lompat pagar untuk memilih berkiprah di sejumlah akademi di luar negeri.
Masalah baru muncul, tanpa mendapatkan pengalaman berkompetisi di tingkatan regional, para pemain ini sedikit kesulitan untuk bersaing di luar. Muskil bagi para pemain untuk bisa diadu dengan bakat dari para bocah Eropa yang memang sejak awal mendapat pendidikan matang di akademi.
"Pemain Indonesia sejauh ini hanya mengandalkan bakat alam. Gak akan bisa bersaing. Bakat saja tidak cukup, tapi diperlukan kemauan untuk mengembangkan diri," ujar Timo.
Ihwal ini kemudian mengembalikan kembali permasalahan bakat muda kita pada benang merah pembibitan yang berjenjang. Mustahil membentuk kerangka dari pemain muda yang brilian tanpa ada akar yang kuat soal pembinaan.