Bisikan Kebangsaan Para Pemain Muda Indonesia di Luar Negeri
Sejumlah bakat Indonesia yang mencoba mengadu nasib di luar negeri akhirnya terkapar. Kita tentu masih berduka soal kabar terganjalnya Tristan Alif untuk berkarier di Eropa lantaran izin tinggal.
Tristan yang kabarnya sudah didekati sejumlah klub di Eropa harus menunda mimpinya untuk bermain di salah satu kompetisi bergengsi di dunia tersebut. Tristan tidak mendapatkan izin tinggal karena sang ayah tidak memiliki pekerjaan tetap di Belanda dan Spanyol yang menjadi persinggahannya.
Pekerjaan sang ayah memang jadi hal wajib jika Alif ingin berkarier di Eropa. Pasalnya hal ini sesuai dengan peraturan dari Federation Internationale de Football Association (FIFA).

Tristan Alif sempat mendapat undangan khusus dari Ajax Amsterdam pada tahun 2013 silam.
Jika mengacu pada regulasi FIFA terkait status dan transfer pemain, aktivitas transfer internasional bisa terjadi jika pemain sudah berusia 18 tahun atau lebih. Namun, hal itu boleh terjadi di bawah usia 18 tahun jika mengacu pada artikel 19 butir ke-2.
Pada poin A, FIFA menjelaskan bahwa, transfer internasional bisa dilakukan jika orangtua pindah ke negara tempat klub yang dituju dengan alasan yang tidak terkait sepakbola, contoh; punya pekerjaan di perusahaan setempat.
Kisah yang sama pun terjadi pada Yussa Nugraha, salah satu talenta menjanjikan yang sempat menimba ilmu di Belanda. Yussa sempat bergabung bersama SC Feyenoord U-15, tim yang berkiprah di Sunday Hoofdklasse A atau kasta kedua dari strata kompetisi amatir di Belanda.
Karier Yussa bersama SC Feyenoord U-15 tidak bisa dianggap sebelah mata. Ia pernah menjadi top skor klub dengan catatan 18 gol dan 13 assist dari 33 pertandingan di seluruh ajang.

Aksi Yussa Nugraha bersama SC Feyenoord terkendala masalah izin tinggal di Belanda.
Menyusul libur kompetisi, pada Juli lalu Yussa dan kedua orang tuanya pulang ke tanah air untuk berlibur. Rencananya, Yussa dikabarkan akan kembali ke Belanda pada bulan Agustus, namun nasib berkata lain. Akibat terganjar masalah visa, winger lincah tersebut terpaksa absen di musim baru ini karena tak bisa kembali ke Belanda.
“Sebenarnya Yussa ingin kembali ke Belanda, karena dia masih harus menyelesaikan sekolah selama 2 tahun lagi. Sayangnya terhambat karena terganjal masalah visa. Visa Yussa susah untuk diurus karena dia masih di bawah umur (15 tahun), di mana aturan di Belanda harus didampingi orangtua,” tutur ibunda Yussa, Indra Lieu Nugraha kepada INDOSPORT.

Imam Nahrawi diharapkan bisa membantu memfasilitasi para pemain muda Indonesia untuk berkarier di luar negeri.
Untuk kasus Tristan sendiri, Ivan Trianto, sang ayah menyebutkan ada celah untuk tetap bisa merawat mimpi anaknya. Menurut Ivan, anaknya hanya memiliki satu jalan yakni di pengecualian dalam peraturan FIFA di Poin A tersebut melalui pekerjaan dan surat izin tinggal.
"Caranya hanya dua jika hal ini bisa terlaksana yakni, saya bekerja di Kedutaan Besar Republik Indonesia sebagai apa pun, yang kedua saya bekerja di perusahaan Indonesia di luar negeri, dan kami sudah tempuh itu," kata Ivan kepada INDOSPORT.
Hal ini membuktikan bahwa setidaknya sepakbola masih membutuhkan sedikit sentuhan kebijakan dari negara. Jika tidak, kebijakan ini justru akan menjadi pedang tajam yang seketika mengiris harapan dari seorang bakat muda Indonesia.