Bisikan Kebangsaan Para Pemain Muda Indonesia di Luar Negeri
Problematika pengembangan usia muda bukan hal baru bagi persepakbolaan Tanah Air. Isu ini menjadi sederet pekerjaan rumah yang selalu menjadi misi utama dalam setiap hajatan besar PSSI sebagai induk sepakbola tertinggi di Indonesia.
Namun hingga hari ini, hasil minor masih bisa dilihat secara kasat mata. Pengembangan usia muda masih menjadi ritme terputus yang belum rampung.
Padahal kompetisi profesional di Indonesia sudah digaungkan sejak Liga Indonesia pertama kali bergulir di tahun 1994. Belakangan baru terbersit penyelenggaraan turnamen untuk kelompok umur U-21 yang wajib diikuti oleh para klub yang tampil di TSC 2016.
Duel laga final ISL U-21 antara Semen Padang melawan Sriwijaya FC di musim 2014.
Karut-marut ini harus segera mendapat perhatian khusus, agar modernisasi sepakbola Indonesia bisa berjalan di trek yang semestinya. Hal ini juga diamini oleh Timo Scheunemann sebagai praktisi pembinaan bakat muda di Indonesia.
"Klub di TSC harus punya sistem scout, hal tersebut harus menjadi instruksi yang harus dipenuhi dan dilakukan oleh pemerintah," ujar Timo kepada INDOSPORT.
Keberaradaan sistem akademi dan jenjang kompetisi yang memadai akan membuat iklim sepakbola Indonesia diyakini menyongsong musim semi. Keberhasilan dalam pola pembangunan sistem usia muda juga niscaya membawa Tim Nasional Indonesia bisa lebih maju.

Timo Scheunemann mengingatkan pentingnya wadah pembinaan bagi para pesepakbola muda nasional.
Sebagai salah satu negara dengan popularitas sepakbola yang tinggi dari masyrakatnya, Indonesia kiranya perlu mencontoh beberapa pengembangan bakat di Eropa, Belanda misalnya. Negeri Kincir Angin ini hanya memilili penduduk tidak lebih dari 17 juta jiwa, namun tidak kekurangan bakat moncer di setiap generasinya.
Berbeda dengan Indonesia, Belanda yang hanya memiliki luas wilayah sebesar 42.508 km2 memiliki 3.200 klub. Ribuan klub ini pun dipastikan akan tampil setiap minggunya untuk mengikuti kompetisi di semua level usia.
Ada 12 kompetisi dari mulai level amatir hingga profesional dalam berbagai kelompok umur di Belanda. Hal ini bisa menjadi salah satu kawah candradimuka yang ampuh untuk menjadi ujian para pesepakbola tampil kompetitif hingga level tertinggi.