Bisikan Kebangsaan Para Pemain Muda Indonesia di Luar Negeri

Kamis, 3 November 2016 14:51 WIB
Editor: Rizky Pratama Putra
 Copyright:
Mencegah Migrasi Dini, Merawat Semangat Kebangsaan

Siapa tak mengenal Mesut Ozil, pemain ternama yang berkibar bersama Tim Nasional Jerman. Padahal pemain ini merupakan pemain keturunan yang tercium bakatnya oleh negara yang membesarkan bakat sepakbolanya.

Ozil merupakan pesepakbola yang lahir dari keluarga imigran asal Turki. Lahir dan tumbuh di Gelsenkirchen, Ozil memulai karier sepakbolanya melalui sebuah klub lokal Rot-Weiss Esen sebelum diambil alih akademi Schalke di tahun pada tahun 2005. 


Mesut Ozil yang memiliki darah Turki akhirnya memilih membela Timnas Jerman.

Pemain kelahiran tahun 1988 ini memaksa Jerman dan Turki terlibat sedikit perselisihan untuk menggunakan jasanya di Timnas mereka. Namun, akhirnya Ozil memilih untuk membela Jerman pada tahun 2007.

Alasan Ozil tidak lain adalah bahwasanya dirinya merupakan seorang Jerman sejati. Lahir dan tumbuh di Jerman serta merasa dibesarkan oleh sepakbolanya, menjadi alasan mudah untuk Ozil memutuskan Timnas yang ia bela.

Terlebih soal prestasi gemilang Jerman di kancah internasional yang lebih mentereng dibanding Turki. Ozil sendiri sudah terlebih dahulu membela Jerman di Timnas U-17 dan U-20 sehingga ingin tetap menjadi Der Panzer di karier profesionalnya.

Apa yang terjadi pada kasus Ozil ini rentan pula menerpa para bakat muda Indonesia jika para stackholder sepakbola nasional tak segera melakukan pembenahan. Problem naturalisasi yang sempat digaungkan terbukti tidak memberikan hasil maksimal lantaran, bakat yang dipilih bukan lagi pemain yang berumur ideal.

Sejatinya, kita masih memiliki sejumlah nama yang masih bisa diasah lebih berkilat. Yussa Nugraha dan Richie Risnal berada di daftar bakat terpantau di Belanda.


Yussa Nugraha harus menahan mimpinya melanjutkan karier di Belanda karena problem izin tinggal.

Yussa yang masih memendam kekecewaan lantaran gagal bertahan di SC Feyenoord akibat izin tinggal, tentu saja berpotensi berpikir ulang untuk melakukan jalan pintas. Harapan Yussa untuk bisa berkompetisi di Eropa bisa saja terealisasi jika saja Yussa mendapat paspor Belanda.

Hal ini bukan isapan jempol semata, lantaran Yussa sempat menjadi pencetak gol terbanyak SC Feyenoord dengan gelontoran 18 gol. Bakat ini bukan tidak mungkin terendus oleh pemandu bakat asal Negeri Kincir Angin.

Belum lagi Richie Risnal yang kini menetap di Belanda bersama orangtuanya. Mapan secara administrasi membuat Richie bisa fokus mengembangkan bakatnya bersama Coerver Coaching Academy.

Bakat Richie kini mulai terpantau oleh sejumlah klub di Liga Belanda. Usianya yang masih 9 tahun merupakan darah segar bagi regenerasi bakat potensial.


Aksi Richie Risnal yang satu akademi dengan putra Patrick Kluivert di Belanda.

Richie yang lahir di Belanda tentu saja mendapatkan privilege untuk mendapat paspor Belanda. Hal ini menjadi gaung sendiri bagi Indonesia jika ingin mendapatkan jasa pemain yang 10 tahun lagi mungkin berkiprah di kompetisi elite Eropa.

Bergeser sedikit ke Asia, ada nama Abdurrahman Iwan yang menanti harapan di Qatar. Abdurrahman juga bernasib baik sebagaimana Richie Risnal.

Lahir di Qatar dan memiliki orangtua yang menetap di negara tersebut, membuat Abdurrahman menikmati musim semi bakatnya. Saat ini, Abdurrahman tercatat dalam tim Al Wakra U10 yang berkiprag di Qatar Super League (QSL) junior.


Aksi memikat Abdurrahman Iwan di Liga Qatar membuatnya mendapat tawaran berpindah kewarganegaraan.

Gawatnya, Abdurrahman mampu membuat gelontoran 79 gol selama dua musim pertamanya di QSL junior. Bahkan Abdurrahman mengakui sempat mendapat tawaran untuk menjadi warga negara Qatar dari pelatihnya.

Tentu saja kita ingin melihat nama-nama di atas menghuni skuat utama Timnas Indonesia dalam kurun waktu 10 tahun ke depan. Perombakan sistematis penting dilakukan jika saja kita tidak ingin kejadian aneksasi bakat muda seperti yang dilakukan Jerman terhadap Turki tidak terjadi di Indonesia.

 
 
1.5K