Seperti Ini Bahaya Kecanduan Game Online Bagi Fungsi Otak Anak

Rabu, 27 Maret 2019 22:50 WIB
Editor: Matheus Elmerio Giovanni
© Sportskeeda
Game e-sports: PUBG Mobile Lite telah resmi dirilis. Copyright: © Sportskeeda
Game e-sports: PUBG Mobile Lite telah resmi dirilis.

INDOSPORT.COM - Ketua Himpunan Psikologi Indonesia (HIMPSI) Provinsi Lampung, Dra. Renyep Proborini M.Ed. menyampaikan perkara kecanduan bermain game online yang akan membawa dampak kerusakan terhadap fungsi-fungsi saraf dan motorik. 

Fungsi motorik yang bermasalah ini, seperti tangan menjadi kaku dan masalah pada gerakan. Hal ini kian berbahaya lantaran dampak lainnya, seperti mengalami kerusakan pada otak yang sifatnya permanen.

Kerusakan otak bisa dilihat dari perilaku anak-anak yang kesulitan membedakan mana yang sekadar mainan dan mana yang bersifat nyata.

"Nanti dia mengira kehidupan yang benar ini dianggap seperti mainan dalam situasi yang bermain," ujar Renyep kepada Antara

Hal ini disampaikan karena mencuatnya pemberitaan soal kajian fatwa haram game PUBG yang menimbulkan kontroversi di kalangan masyarakat. 

Menurut Renyep, saat seseorag menganggap dunia nyata adalah sebagai mainan, maka pelaku game sendiri bisa saja melakukan tindakan melanggar hukum, seperti menembak. Mereka bisa mengira bahwa orang di sekelilingnya merupakan musuh yang patut disingkirkan.

© App4vn
Melempar salah satu cabang olahraga yang ada dalam game PUBG Copyright: App4vnMelempar salah satu cabang olahraga yang ada dalam game PUBG

Selain itu, para pemain game yang kecanduan akan terpapar dengan kekerasan, sehingga empatinya akan berkurang. Pada akhirnya mereka lebih mudah melakukan tindakan-tindakan agresif kepada orang di sekelilingnya.

Dikutip Antara, Renyep mengungkapkan adanya peran orang tua sejak awal untuk mendampingi sang anak, agar dapat melakukan kontrol terhadap penggunaan smart phone.

"Prinsipnya pada orang tua semestinya sejak awal mereka perlu melakukan kontrol terhadap penggunaan gawai (gadget) dan mereka secara konsisten melakukan itu pada semua anggota keluarga tanpa kecuali. Jadi orang tuanya tidak hanya menyuruh anak untuk membatasi, tapi mereka juga harus memberikan contoh untuk membatasi," jelasnya. 

Menurutnya, alangkah lebih baik anak diberikan telepon genggam dalam pengawasan. Jika tidak, maka anak akan mencuri kesempatan bersama temannya. Sehingga nantinya justru akan berdampak lebih luas berupa tidak adanya pengawasan sama sekali.

Dekan dari Fakultas Psikologi Universitas Muhammadiyah Lampung ini juga menyatakan dirinya sangat mendukung adanya fatwa haram yang sedang dikaji oleh Majelis Ulama Indonesia (MUI) sekarang ini. 

Penulis: Neneng Astrianti

Terus Ikuti Berita Olahraga eSports Lainnya Hanya di INDOSPORT

IDS Emoticon Suka
Suka
0%
IDS Emoticon Takjub
Takjub
0%
IDS Emoticon Lucu
Lucu
0%
IDS Emoticon Kaget
Kaget
0%
IDS Emoticon Aneh
Aneh
0%
IDS Emoticon Takut
Takut
0%
IDS Emoticon Sedih
Sedih
0%
IDS Emoticon Marah
Marah
0%